vita brevis ars longa

Kau terpelajar, cobalah bersetia pada katahati.
Recent Tweets @aseptopan
Posts I Like
Who I Follow
Afinitas, rindu, dan keresahan yang tak pernah selesai.
#ehm

Seorang ibu membawa anak dalam pangkuan tangan kanannya, sedangkan tangannya yang lain memegang tangan anak lainnya. Ibu itu menuju sebuah gerbang. Tepat di depan gerbang, belasan orang berkumpul, ada yang mengacungkan tangan, mebawa batu. Sebagian lagi menggenggam jeruji pagar tepat di depannya. Itulah sedikit gambaran mengenai karya Käthe Kollwitz dengan judul Storming the Gates, dibuat dengan teknik intaglio pada tahun 1897. Karya ini merupakan salah satu dari beberapa karya-karya klasik seniman grafis koleksi sang kurator, Tony Godfrey, dalam pameran seni grafis bertajuk Here and There, Now and Then yang terselenggara di Langgeng Art Foundation Yogyakarta, 15 Maret – 15 April 2012 silam.  Karya-karya old master prints –dalam kalimat Godfrey– seperti Los Chinchillas, seri ke 50 dari karya berseri Francisco Goya yang sangat termasyur, Los Caprichos [1] ditampikan dalam pameran ini beserta karya-karya dari perupa Yogyakarta. Serta seniman di luar kota ini seperti Tisna Sanjaya –karena komitmennya yang kuat kepada Seni Grafis– serta FX Harsono dan Tintin Wulia yang meskipun tidak berdomisili di Yogyakarta, tetapi secara reguler selalu mengunjungi kota ini FX Harsono dan Tintin Wulia yang meskipun tidak berdomisili di Yogyakarta, tetapi secara reguler selalu mengunjungi kota ini.

Hampir semua karya yang dipamerkan Here and There, Now and Then dicetak di atas kertas, dengan teknik dasar Intaglio. [2] Sedikit diantaranya menggunakan taknik cetak tinggi. Dalam catatan kuratorialnya, sebelum pameran ini diselenggarakan, Tony Godfrey sempat bertanya kepada beberapa seniman yang ia kenal di Jogja: apakah mereka pernah melihat karya-karya old master prints selain di dalam buku? Jawaban mereka adalah “tidak”. Setelahnya, ia membawa 180 karya-karya tersebut untuk mereka lihat secara langsung. Ia juga mengatakan bahwa penyelenggaraan pameran ini berawal dari ketertarikannya melihat fakta bahwa: diatara seniman-seniman Jogja terdapat banyak diantaranya menempuh pendidikan dalam bidang seni grafis. Meskipun, kemudian beberapa diantaranya tidak kita kenal sebagai seniman yang intens berkarya dengan teknik cetak seni grafis.

Bisa diambil contoh ialah Ade Darmawan, saat ini ia lebih dikenal sebagai seniman conceptual art, karya-karyanya meliputi video dan obyek temuan. Bagaimana Menjadi Kaya, ialah judul karya Ade Darmawan dalam pameran ini. Dengan teknik cetak dalam (Intaglio), yaitu Etsa dan Aquatint, karya ini menampilkan gambaran tangan-tangan yang saling terhubung satu sama lain, dicetak dengan tinta hitam di atas kertas berwarna putih. Sebagian gambaran tangan dalam karya ini memegang kain yang juga mengeluarkan tangan. Lainnya memegang buku bahkan menjadi pijakan obyek orang pada dua telapak tangan. Ada keterkaitan diantara tangan-tangan tersebut. Bagaimana Menjadi Kaya dengan jelas menggambarkan prosesnya. Proses menjadi kaya, terkadang bisa didapatkan dengan instan, seperti tangan pesulap yang mengeluarkan benda dibalik kain penutup.

Selain itu, hasil cetakan yang gagal, yang dianggap tidak maksimal oleh pencetaknya, juga ditampilkan pada salah satu bagian tembok, tanpa bingkai. Hal ini memperlihatkan proses cetak setiap karya yang ditampilkan, bagaimana sebuah karya seni grafis tidak terhindar dari keterikatan teknik cetak itu sendiri. Hasil cetakan yang gagal biasanya berupa tinta yang tidak tercetak maksimal atau bergesernya bidang pelat yang menjadi matrix, sehingga imaji yang tercetak di kertas juga ikut bergeser.

***

Pada umumnya, karya-karya old master prints dicetak dengan jumlah edisi yang sangat banyak, bisa mencapai ratusan. Hal sedikit berbeda dengan di Indonesia dewasa ini. Dalam ketiadaan pasar seni grafis yang kuat di Indonesia, banyak diantara seniman grafis di Indonesia membuat karya grafis dengan meminimalisir jumlah edisi yang mereka cetak. Bahkan, banyak diataranya dicetak dalam jumlah satu edisi, di atas kain kanvas, dengan ukuran yang relatif besar untuk ukuran sebuah karya cetak seni grafis. Untuk orang-orang yang telah terbiasa mengamati karya-karya old master prints, ini merupakan hal yang samasekali absurd. Karena biasanya mereka melihat sebuah karya grafis dicetak dalam kisaran jumlah ratusan edisi. Bahkan para seniman grafis di Eropa dewasa ini, normalnya mencetak sebuah karya dengan jumlah edisi yang melebihi angka 50. Karena karya seni grafis secara spesifik diciptakan untuk menghasilkan karya dengan jumlah banyak.

Asumsi saya ialah, sedikit banyak hal ini memang berkaitan dengan kondisi pasar seperti yang telah disebutkan sebelumya. Sebuah karya seni grafis, jika semakin banyak memiliki edisi, tentu memiliki harga yang relatif lebih rendah sesuai dengan semakin banyaknya jumlah karya tersebut. Sangat wajar jika seseorang dengan pendapatan kelas menengah seperti Godfrey memiliki uang yang cukup untuk membeli karya-karya dari Francisco Goya dan Tiepolo, tapi tidak untuk karya Agus Suwage.[3]

Memang, hal ini adalah masalah klasik dalam seni grafis di Indonesia –selain kekhawatiran daya tahan kualitas kertas di Indonesia, yang telah menjadi rahasia umum. Untuk masalah terakhir, beberapa seniman mulai mengatasinya dengan menggunakan material kertas impor dengan kualitas tinggi. Seperti Tisna Sanjaya yang kerap menggunakan kertas Hahnemühle untuk setiap karya intaglio-nya. Kertas asal Jerman ini, selain memiliki kualitas sangat baik, dilengkapi dengan sertifikat keotentikannya pada setiap lembar kertas, serta ketahanan yang bisa mencapai lebih dari 100 tahun. [4] Selain itu, seniman asal Yogyakarta Bayu Widodo baru-baru ini menggunakan kertas Fabriano buatan Italia untuk beberapa karya screen printing, dalam pameran tunggalnya di Galeri ber.seni, Jakarta, 22 April hingga 20 Mei 2012. [5]

Masih menyoal kertas, sebenarnya di Indonesia sendiri terdapat beberapa kertas dengan kualitas cukup baik. Tinggal bagaimana kita memastikan perawatan terhadap kualitas kertas itu tetap diperhatikan. Karena, selain karya dengan material kanvas, di Indonesia sendiri terdapat beberapa tempat yang menyediakan jasa restorasi kertas. [6] Dalam perbincangan dengan Bambang Budjono beberapa waktu lalu di Fakultas Seni Rupa Insitiut Kesenian Jakarta, saya mendapatkan informasi jika di Balai Konservasi Jakarta terdapat tempat restorasi karya seni, termasuk kertas. Selain juga terdapat di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).[7] Tempat lain yang menyediakan jasa ini, ialah juga terdapat di Perpustakaan Nasional Indonesia, serta beberapa galeri swasta di Jakarta. Sangat menarik jika para seniman di Indonesia mulai memikirkan bagaimana mencari penyelesaian-penyelesain masalah seperti ini, bukan hanya seniman grafis, tapi seniman pengguna material kertas lainnya. Seperti seniman yang intens dengan teknik drawing di atas kertas.

Jika kita melihat jauh ke belakang, seni grafis sejak awal kemunculannya memang identik dengan jumlah karya yang relatif banyak, bisa mencapai puluhan bahkan ratusan edisi. Karya-karya dengan menggunakan teknik seni grafis kerap ditemukan dalam ilustrasi buku-buku, dengan teknik cetak Intaglio; serta pada poster-poster dengan dominasi teknik Litografi. Sifatnya yang bisa digandakan seharusnya dapat dilihat sebagai kelebihan, bukan sebaliknya. Sifat reproduktifitas seni grafis ini tidak bisa disamakan dengan reproduksi. Resolusi International Congress of Plactic 1960 yang masih dipakai sampai sekarang, menerangkan bahwa karya seni grafis pada prinsipnya adalah karya orisinal dengan pertimbangan kerja tangan seniman berlaku di atas pelat cetak dan hasil cetakannya disetujui oleh seniman. Dalam seni grafis, setiap edisi memiliki nilai orisinal yang dijamin melalui pembubuhan tanda tangan seniman pada setiap hasil cetakan serta nomor urut cetakan. [8] Dengan ini, semestinya permasalahan mengenai orisinalitas karya sudah selayaknya ditinggalkan. Para pelaku ataupun penikmat karya seni grafis sudah seharusnya memahami bahwa ada prosedur dan standar konvensi dalam seni grafis seperti pencantuman nomor edisi termasuk artist proof dan test print, yang berlaku global dan tidak mengurangi nilai orisinalitasnya. Barangkali, dalam hemat saya, semangat yang harus dikedepankan dalam hal ini ialah, meminjam kalimat Luis Camnitzer –seorang professor dan seniman grafis kelahiran uruguay­: ini adalah bagian dari upaya demokratisasi seni.

Dalam pameran ini, upaya bermain-main dengan konvensi seni grafis, keliru kiranya jika dilihat sebagai sebuah rigiditas dalam berkarya dengan teknik cetak seni grafis. Sebaliknya, adanya penyegaran ketika kita diperlihatkan kepada karya seni grafis yang tidak berusaha mendekati pendekatan seni lukis pada umumnya –seperti kerap kali terlihat dalam karya-karya seni grafis di Indonesia dewasa ini: berukuran besar, dengan media kanvas dan dicetak dalam satu edisi. Dalam Here and There, Now and Then, ada semacam penolakan halus melalui bisikan yang riuh rendah, terhadap komodifikasi seni –utamanya dalam seni grafis– yang perlahan mengikis kedemokratisan pada setiap karyanya.

 –Asep Topan, Mei 2012.



Catatan Kaki:

[1]Los Caprichos adalah 80 seri karya cetak aquatint dibuat oleh seniman asal Spanyol Francisco Jose de Goya yang dibuat pada kurun waktu 1797 sampai 1798. Karya-karya ini mengkritisi kondisi sosial masyarakat spanyol waktu itu, meliputi dominasi takhayul, ketidakmampuan penguasa, penurunan rasionalitas, dll.

[2] Intaglio adalah teknik cetak dalam seni grafis yang biasa juga disebut sebagai Cetak Dalam. Biasanya pelat tembaga atau seng digunakan sebagai bahan acuan utama, dan permukaan cetak dibentuk dengan teknik etsa, aquatint, engraving, drypoint, atau mezzotint.

[3] Godfrey, Here and There, Now and Then (2012) hlm. 1

[4] Lebih lengkap, bisa dilihat dalam situs resminya: http://www.hahnemuehle.com/site/en/169/home.html

[6] Berasal dari istilah dalam bahasa Inggris: restoration. Untuk proses perbaikan sebuah karya seni. (restoration: the process of repairing or renovating a building, work of art, vehicle, etc., so as to restore it to its original condition, New Oxford American Dictionary, 2009)

[7] Bambang Budjono, pembicaraan pribadi, 2012. (Lebih lengkap mengenai restorasi di ANRI dapat dilihat dalam tautan ini: http://www.anri.go.id/4dm1n/data/artikel_data/0405279a865230ac0d51cc8c62a2d9d4.pdf

[8] Aminudin TH Siregar, Catatan Dewan Juri Trienal Seni Grafis II – 2009,  Menuju Perspektif Baru Seni Grafis Kita (Jakarta: Bentara Budaya Jakarta, 2009) hlm. 8.

Rest In Peace MCA / Adam Yauch / Nathanial Hörnblowér of Beastie Boys.

Akhir-akhir ini, saya banyak ngobrol-ngobrol bersama teman yang banyak bercerita tentang Zodiak. Sebenarnya bukan membicarakan zodiak sebagai ramalan, namun lebih ke pembacaan karakter manusianya. Serta kompabilitas mereka dengan tanda zodiak lain. Dari awal, meskipun saya tahu bahwa saya berzodiak Cancer, tapi –demi apapun Tuhan kalian– saya sama sekali tidak peduli dengan hal-hal seperti ini, meski terkadang ada benarnya juga. Semakin sering memperbincangkan ini, justru semakin lekat di ingatan, tentang apa tipikal karakter zodiak ini dan itu, siapa orang-orang penting dengan zodiak ini dan itu, dll. Dulu, saat SMA jika saya tidak keliru, saya sempat mencari-cari siapa saja orang terkenal atau selebritis atau public figur yang sekedar sama tanggal lahirnya dengan saya. Ternyata saya menemukan satu orang: Raul Gonzalez Blanco! Setelah sekian lama, saya ternyata di ingatkan lagi dengan teman-teman saya ini.

Tulisan ini, sebenarnya hanya ingin mencari siapa saja orang-orang yang memiliki zodiak sama dengan saya (Cancer, lahir antara 20 Juni – 22 Juli) yang berprofesi sebagai pemain sepakbola.Dari awal saya mulai antusias mencari, dan ternyata banyak sekali. Untuk lebih menarik, saya akan membuat tim imajiner dengan orang-orang ini. Syaratnya, selain mereka berzodiak Cancer, mereka juga harus masih aktif bermain sepakbola. Tim ini akan memakai formasi 4-2-3-1, formasi yang dipakai Macello Lippi ketika membawa Italia juara dunia tahun 2006 silam. Alasan pemilihan formasi ini sederhana saja, pertama ini salah satu skema favorit saya dalam game sepakbola seperti Football Manager, Winning Eleven atau Pro Evolution Soccer. Kedua, formasi ini sedikit banyak dipengaruhi oleh susunan pemain yang berzodiak cancer yang telah saya temukan. Oke, mari langsung kita lihat susunan pemain-pemain berzodiak Cancer di bawah ini:

Kiper

Justo Villar (30 Juni): Ia adalah kapten timnas Paraguay. Saat ini bermain di klub Estudiantes de la Plata, Argentina. Ia bermain sangat baik ketika mengantarkan Paraguay lolos ke babak final Copa Libertadores tahun lalu, dan menjadi kiper terbaik dalam keseluruhan turnamen.

Bek Kiri

Gareth Bale (16 Juli): Salah satu bek kiri terbaik di dunia saat ini. Memiliki kecepatan, keseimbangan dan tendangan yang mematikan. Salah satu momen terbaiknya ialah ketika mencetak tiga gol ke gawang Inter Milan di Giussepe Meazza dalam pertandingan Liga Champions Eropa musim 2010-11. Juga masuk dalam UEFA Team of The Year 2011.

Bek Tengah

Andre Ooijer (11 Juli): Bek senior Belanda, saat ini bermain untuk Ajax Amsterdam. Prestasi terbaiknya ialah membawa Ajax menjuarai eredivisie musim lalu dan mengantarkan Timnas Belanda menuju final Piala Dunia 2010, sebelum akhirnya dikalahkan oleh Spanyol.

Micah Richards (24 Juni): Bek serba bisa asal Inggris ini biasanya memang bermain di posisi bek kanan, namun tak jarang juga ia di pasang sebagai bek tengah. Baik di Manchester City, pun di timnas Inggris. Ketika tahun 2006, saat ia menginjak usia 18 tahun, Richards dipanggil untuk memperkuat timnas senior Inggris. Ia menjadi pemain belakang termuda yang dipanggil oleh timnas senior, dalam persepakbolaan Inggris.

Bek Kanan

Cicinho (24 Juni): Saat ini bermain sebagai pemain pinjaman di Villareal, dari klub Serie A Italia AS Roma. Puncak karirnya ialah pada tahun 2005, saat menjuarai Piala Dunia Antar Klub bersama Sao Paulo, kemudian hijrah ke Real Madrid, menjuarai La Liga, sebelum pada akhirnya berlabuh ke AS Roma pada 2007.

Pemain Tengah

Gökhan İnler (27 Juni): Saat ini bermain untuk Napoli dan timnas Swiss. Memiliki karakter petarung, sangat cocok dimainkan dalam pola dua gelandang bertahan, sebagai penyeimbang permainan dan penghalau pertama serangan lawan. Memiliki kemampuan bertahan dan menyerang yang sama baiknya. Membawa Udinese menempati posisi ke-4 klasemen akhir Serie A 2010-11 sebelum pidah ke Napoli. Di Napoli, ia berhasil mengantar tim asal Naples ini menuju partai final Copa Italia 2011-12 melawan Juventus.

Frank Lampard (24 Juni): Sebagai pemain tengah, Lampard bisa jadi salah satu yang memiliki kemampuan terlengkap dalam sepakbola Inggris, bahkan dunia. Salah satu kelebihan yang paling menonjol dari dia adalah mencetak gol. Saat ini, Lampard tercatat sebagai pemain tengah yang paling banyak mencetak gol dalam sejarah Liga Premier Inggris dengan torehan 145 gol. Selain menjadi Top Scorer untuk Chelsea pada musim kompetisi 2004-05, 2005-06 dan 2007-08. Duetnya di lini tengah bersama Gökhan İnler akan menjadi menarik untuk diterapkan.

Javier Pastore (24 Juni): Usianya masih 22 tahun. Pada awal musim ini, ia mulai bermain untuk klub Perancis: Paris Saint-Germain (PSG). Pastore ditransfer dari Palermo dengan nominal yang tidak sedikit: 39.8 juta Euro! Wajar jika PSG berani membayar dengan harga semahal itu untuk kemampuan Pastore. Pada 2010 ia menjadi pemain muda terbaik di liga Italia. Ia merupakan tipe playmaker dengan kemampuan teknik luar biasa, tendangan mematikan, penguasaan bola dan ketenangan.

Lionel Messi (24 Juni): Akan sangat panjang jika saya mencantumkan semua penghargaan yang pernah di raih Lionel Messi. Dalam usianya yang ke-24, ia telah menjadi pemain terbaik dunia 3 kali berturut-turut serta menjadi pencetak gol terbanyak dalam sejarah klub FC Barcelona. Dalam skema ini ia akan ditempatkan di sisi kanan, memberikan tusukan ke dalam, bahkan bisa berganti posisi lebih ke tengah seperti biasa ia bermain.

Samir Nasri (26 Juni): Penampilan apiknya bersama Arsenal membuat Manchester City tertarik mendatangkannya pada awal musim ini. Memiliki kontrol bola yang baik, akselerasi, umpan terukur dan kemampuan membaca pertandingan. Posisi gelandang kiri merupakan spesialisinya, menusuk ke jantung pertahanan lawan. Mengutip kalimat ESPN tentang Samir Nasri: “vision and imagination make him an unpredictable opponent”.

Penyerang

Raul Gonzalez (27 Juni): Sebenarnya ada banyak yang bisa menempati posisi ini selain Raul. Jika saja Raul tidak berzodiak Cancer, mungkin pilihan pertama akan jatuh pada Mario Gomez. Raul memiliki akurasi dan penyelesaian di depan gawang di atas rata-rata. Menjadi pencetak gol terbanyak dalam sejarah Real madrid dengan 323 gol, dari 741 penampilan. Serta pencetak gol terbanyak dalam sejarah Liga Champions Eropa dengan 71 gol. Atas jasa-jasanya dalam dunia olah raga, Raul mendapatkan penghargaan khusus dari kerajaan Spanyol pada 2006: Gold Medal of the Royal Order of Sporting Merit.

Pelatih:

Owen Coyle (14 Juli): Tidak ada pilihan lain untuk posisi ini. Namun, bukan berarti ia pilihan seadanya. Mengingat reputasinya sekarang sebagai pelatih Bolton Wanderers di Liga Premier Inggris. Sebelumnya ia melatih Burnley, klub di liga yang sama. Salah satu momen terpenting dalam sejarah kepelatihannya ialah ketika membawa Burnley mengalahkan Manchester United pada 19 Agustus 2009, yang pada saat itu berstatus sebagai juara bertahan. Selebihnya, Owen Coyle hanyalah sebagian dari beberapa pelatih yang tidak begitu diperhitungkan dalam perebutan juara ataupun tiket ke kompetisi eropa. Bahkan, tugas utama ia saat ini ialah menjauhkan Bolton Wanderers dari zona degradasi yang masih berada di posisi 18 klasemen sementara Liga Premier Inggris.

Pemain Lain:

-       Luca Castelazzi, Nicola Pozzi, Antonio Cassano, Alberto Gilardino, Alberto Aquilani (Italia)

-       Stewart Downing, Ashley Young, Adam Johnson, Kevin Nolan (Inggris)

-       Juliano Belletti, Nene, Felipe Melo, Nilmar (Brazil)

-       Yann M’Vila, Yoann Gourcuff, Gael Kakuta, Alou Diarra (Perancis)

-       Thomas Kraft, Mario Gomez (Jerman)

-       Dirk Kuyt (Belanda)

-       Sergio Busquets (Spanyol)

-       Craigh Bellamy (Wales)

-       Eduardo Salvio (Argentina)

-       Alexander Frei (Swiss)

-       Fredy Guarin (Colombia)

-       Mounir El Hamdaoui (Maroko)

-       Shunsuke Nakamura (Jepang)


Honourable Mentions: The Legend and Youngster

Selain pemain-pemain yang masih aktif bermain sepakbola, ternyata banyak juga diantaranya merupakan pemain legenda yang sudah pensiun bermain bola. Diantara nama-nama itu, ada Michel Platini, legenda hidup Juventus dan timnas Perancis, yang saat ini mejabat sebagai ketua federasi sepakbola Eropa (UEFA). Selain itu, ada Alfredo Di Stefano dan Giacinto Fachetti. Keduanya merupakan legenda di klub mereka: Real Madrid dan Internazionale Milan. Zinedine Zidane merupakan salah satu nama yang tak bisa dilupakan juga dalam jajaran legenda ini. Daftar legenda ini secara keseluruhan berisi nama-nama seperti berikut: Paolo Maldini (Italia), Patrick Kluivert, Jaap Stam (Belanda) Giampiero Boniperti, Christian Vieri, Gianfranco Zola (Italia), Mario Kempes, Fernando Redondo (Argentina), Fabien Barthez, dan Patrick Vieira (Perancis).

Dalam barisan pemain muda atau youngster yang diprediksi akan menjadi bintang di masa depan, zodiak cancer juga memiliki nama-nama pemain yang cukup populer karena kemampuan di atas rata-rata yang mereka miliki diantara youngster lainnya. Sebut saja: Yann M’Vila, Gael Kakuta, Yoann Gourcuff (Perancis), Adam Johnson, Ashley Young (Inggris) Bébé (Portugal), Eduardo Salvio (Argentina), serta Gareth Bale (Wales).


Sergio Busquets: Sebuah Aib Buat Cancerian

Aib, sesuatu yang memalukaan atau apalah istilah lainnya yang memiliki arti lebih kurang sama seperti kata itu, saya kira pantas disematkan untuk pemain tengah Barcelona ini. Memang alasan ini sangat subyektif, saya tidak suka dengan pemain yang satu ini. Meskipun pada kenyataanya saya tidak membenci Barcelona.

Busquets, pemain asli Catalan ini, merupakan salah satu dari beberapa pemain sepakbola yang saya benci selain Marco Materazzi, Partick Evra dan Pepe (Portugal). Alasannya karena mereka telah mencederai sportifitas itu sendiri –yang semestinya harus dijunjung tinggi dalam sepakbola atua olahraga lainnya. Dalam kasus Sergio Busquets, meskipun dia salah satu pemain tengah andalan Barcelona dan Timnas Spanyol, tetapi lebih dikenal sebagai diver sejati. Berpura-pura dilanggar untuk mendapatkan tendangan bebas atau dikeluarkannya pemain lawan oleh wasit. Memang ini hal yang wajar dalam sepakbola, tapi apa yang dilakukan Busquets sungguh diluar batas kewajaran. Bahkan jika para pemain Italia terkenal dengan divers-nya yang banyak, saya pikir masih belum sebanding dengan Busquets. Seharusnya dia pindah zodiak.

***


Jika kita lihat dari keseluruhan pemain dalam daftar di atas, salah satu kelebihannya ialah tentu saja di sana terdapat sederet pemain bintang seperti Lionel Messi, Mario Gomez, Gareth Bale, dll. Tapi, ada ketidak seimbangan perihal posisi bermain mereka. Mereka, para pemain cancer ini, lebih banyak dihuni oleh pemain berkarakter menyerang, hampir tidak ditemukan bek tengah murni, apalagi pilihan pemain bintangnya untuk posisi pemain bertahan. Dalam posisi pemain tengah dan penyerang justru banyaknya minta ampun. Saya harus setengah hidup menentukan siapa yang layak menghuni starting eleven diantara mereka. Bayangkan saja, siapa yang tidak akan bingung jika dihadapkan dengan pilihan antara memasang striker sekelas Raul Gonzalez, Mario Gomez, Antonio Cassano, Dirk Kuyt, Alexander Frei, Craigh Bellamy dan Alberto Gilardino dalam satu tim? Lebih parah adalah posisi sayap dan pemain tengah, disana persis terdapat Gokhan Inler, Frank Lampard, Yoann Gourcuff, Gael Kakuta, Adam Johnson, Stewart Downing, Lionel Messi, Samir Nasri dan Javier Pastore. Ketimpangan ini memang terlihat sangat jelas, karena di posisi bek hanya menyisakan Andre Ooijer dan Micah Richard. Itu pun, sebenarnya posisi awal Richard ialah seorang Bek Kanan. Beruntung, posisi kiper tidak ada kendala, dua kiper yaitu Justo Villar dan Luca Castelazzi bisa dikatakan cukup untuk mengisi posisi ini.


Karakter dan Sifat Dominan, serta Pengaruhnya di Atas Lapangan

Masih bersumber dari salah satu teman yang bergiat memperhatikan sifat-sifat manusia melalui zodiaknya, tentu saja akan sangat menarik jika dihubungkan dengan perilaku para pemain ini di lapangan. Sebenarnya karakter-karakter ini memang tidak selalu benar, saya selalu percaya seperti itu, akan tetapi untuk melengkapi tulisan ini ada baiknya juga jika karakter dominan setiap cancerian.

Moody: Salah satu sifat yang akan membahayakan jika mereka moody  sekedar untuk latihan, misalnya. Tetapi sifat ini mungkin tidak akan terlihat, jika pun ada, karena mereka semua adalah pemain professional.

Family Person: Akan masuk akal jika salah satu karakter ini yang dimiliki oleh cancerian di atas. Sebagai contohnya, mereka tidak banyak diberitakan pergi keluar larut malam, ke klab dan mabuk-mabukan seperti yang sering dilakukan oleh Adriano dan Ronaldihno. Mereka, mungkin, lebih senang menghabiskan waktunya di rumah daripada pergi keluar.

Ekspresif: Dalam kasus ini, saya pikir tidak ada diantara cancerian di atas yang sangat ekspresif di lapangan. Mereka cenderung tenang, berpenampilan biasa saja –dalam artian: tidak mengganti-ganti model rambut seperti Raul Meireles atau Mario Balotelli, contohnya. Mungkin dalam permainan ada beberapa yang cenderung lebih ekspresif seperti Raul Gonzalez yang tidak pernah lupa mencium cincin pernikahannya seusai mencetak gol ke gawang lawan.

Ambisius: Sifat ini sebetulnya tidak melulu buruk, pun tidak sepenuhnya baik. Kuncinya ialah bagaimana mereka mengendalikan ambisi mereka, karena jika para pemain ini terlalu berambisi –terutama untuk ambisi pribadi– maka yang terjadi akan sebaliknya dari apa yang diharapkan.

Drama Queen: Istilah ini sebenarnya bisa diartikan juga sebagai “lebay” atau berlebih-lebihan. Salah satu cancerian di atas yang memiliki karakter ini dan paling terlihat jelas hanya ada satu nama: Sergio Busquets.

Pekerja Keras: Semua orang memang harus bekerja keras untuk meraih sesuatu yang ia harapkan, tidak hanya untuk cancerian. Akan tetapi, jika sifat ini yang tertanam dalam diri setiap cancerian di atas, bukan hal yang aneh jika Lionel Messi bisa menjadi pemain sebesar seperti sekarang dalam usianya yang baru 24 tahun, atau Micah Richards yang dipanggil timnas senior Inggris pada usia yang sangat muda: 18 tahun. Padahal, untuk seusia dia, biasanya hanya akan dipakai untuk timnas dalam batasan usia 19, 20, 21, atau 23 tahun ke bawah. Bukan hal mustahil jika siapapun memiliki sifat ini, ia akan bisa berbicara banyak, berperan lebih, di setiap bidang yang ia tekuni.


Daftar Lengkap Pemain dengan zodiak Cancer:

20 Juni: Juliano Belletti (Brazil), Frank Lampard (Inggris), Franco Semioli (Italia), Javier Pastore (Argentina)

21 Juni: Michel Platini, Gael Kakuta (Perancis), Cristiano Lupatelli (Italia)

23 Juni: Zinedine Zidane, Patrick Vieira (Perancis), Michael Angel Angulo (Spanyol)

24 Juni: Luis Garcia (Spanyol), Cicinho (Brazil),  Shunsuke Nakamura (Jepang), Kevin Nolan, Micah Richard (Inggris), Lionel Messi (Argentina).

25 Juni: Jamie Redknapp (Inggris)

26 Juni: Paolo Maldini (Italia), Felipe Melo (Brazil), Samir Nasri (Perancis)

27 Juni: Raul Gonzalez (Spanyol), Gokhan Inler (Swiss)

28 Juni: Fabien Barthez (Perancis), Phil Bardsley (Inggris)

29 Juni: Junior (Brazil), Yann M’Vila (Perancis)

30 juni: Antonio Chimenti, Nicola Pozzi (Italia), Justo Villar (Paraguay), Fredy Guarin (Kolombia)

1 Juli: Patrick Kluivert, Ruud van Nistelrooy (Belanda), Dede (Brazil)

4 Juli: Alfredo Di Stefano (Argentina), Giampiero Boniperti (Italia), Emile Mpenza (Belgia)

5 Juli: Gianfranco Zola, Alberto Gilardino (Italia), Marcio Amoroso (Brazil), Stiliyan Petrov (Bulgaria)

6 Juli: Fernando Redondo (Argentina), Zé Roberto (Brazil)

7 Juli: Alberto Aquilani (Italia)

8 Juli: Robbie Keane (Rep. Irlandia)

9 Juli: Gianluca Vialli, Paolo Di Canio (Italia), Gary Kelly (Rep. Irlandia), Ashley Young (Inggris)

10 Juli: Ludovic Giuly (Perancis), Mario Gomez (Jerman)

11 Juli: Andre Ooijer (Belanda), Ruben Baraja (Spanyol), Yoann Gourcuff (Perancis)

12 Juli: Christian Vieri (Italia), Antonio Cassano (Italia), Bébé (Portugal)

13 Juli: Craigh Bellamy (Wales), Eduardo Salvio (Argentina)

14 Juli: Owen Coyle (Rep. Irlandia), Mounir El Hamdaoui (Maroko), Adam Johnson, James Vaughan (Inggris), Nilmar (Brazil)

15 Juli: Mario Kempes (Argentina), Alexander Frei (Swiss), Alou Diarra (Perancis)

16 Juli: Sergio Busquets (Spanyol), Gareth Bale (Wales)

17 Juli: Jaap Stam (Belanda)

18 Juli: Giacinti Facchetti (Italia), Carlos Diogo (Uruguay)

19 Juli: Ebbe Sand (Denmark), Luca Castelazzi (Italia), Luke Young (Inggris), Nene (Brazil)

20 Juli: Roger Hunt (Inggris)

21 Juli: Anderson (Brazil), Andriy Voronin (Ukraina)

22 Juli: Dirk Kuyt (Belanda), Stewart Downing (Inggris), Thomas Kraft (Jerman)

***

Seperti yang saya katakan di awal, saya memang tidak peduli dengan hal-hal seperti zodiak ini. Dengan adanya tulisan ini, bukan sepenuhnya berarti saya mulai tertarik mengulik lebih dalam tentang zodiak. Hanya ingin membuat sesuatu (dalam hal ini tulisan) dari apapun yang terjadi di sekitar saya sendiri, dikaitkan dengan sesuatu yang memang digemari, seperti sepakbola. Dengan harapan semoga setiap apapun yang kita bincangkan, sekecil apapun, se-tidak penting apapun, bisa menjadi sesuatu yang bisa dibagikan ke orang lain. Terima kasih buat teman-teman atas inspirasi zodiaknya, juga untuk kalian yang telah menyempatkan diri untuk membaca tulisan ini.

 

Asep Topan, April 2012.


Pada tanggal 19 April 1930, di Yogyakarta dibentuk Pesatuan Sepakraga Seluruh Indonesia dengan ketua umum pertamanya ialah Ir. Soeratin Sosrosoegondo. Dua puluh tahun kemudian, pada 1950, kata Sepakraga diganti menjadi Sepakbola, dalam sebuah Kongres PSSI di Surakarta. Sejak saat itu, PSSI berganti nama menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia. Hingga saat ini.

PSSI bergabung dengan FIFA (Fédération Internationale de Football Association/Federasi Internasional Sepak Bola) sejak 1952, dan bergabung dengan AFC (Asian Football Confederation/Konfederasi Sepakbola Asia) pada 1954.

absolutely right!

Pada 1955, tanggal 18 April, Konferensi Asia Afrika diadakan di Bandung, hingga 24 April pada tahun yang sama. Pertemuan ini berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung. Sebanyak 29 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu mengirimkan wakilnya. Ini adalah konferensi yang mengilhami diadakannya Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Nonblok. Tokoh negara yang hadir antara lain ialah: Soekarno (Indonesia), Jawaharal Nehru (India), Zhou Enlai (RRC), Gamal Abdul Nasser ( Mesir), U Nu (Myanmar) dan Mohammad Ali Borga (Pakistan). Konferensi ini kemudian menghasilkan Dasa Sila Bandung.

Isi dari Dasa Sila Bandung ialah:

  1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
  3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil.
  4. Tidak melakukan campur tangan atau intervensi dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain.
  5. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri secara sendirian mahupun secara kolektif, yang sesuai dengan Piagam PBB.
  6. (a) Tidak menggunakan peraturan-peraturan dan pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara-negara besar, (b) Tidak melakukan campur tangan terhadap negara lain.
  7. Tidak melakukan tindakan ataupun ancaman agresi mahupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
  8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan cara damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, atau penyelesaian masalah hukum , ataupun lain-lain cara damai, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan, yang sesuai dengan Piagam PBB.
  9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.
  10. Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional

sumber:

- Almanak Sejarah Indonesia, Peristiwa dan Tokoh, oleh Ir. Husaini Azharny, M.Ed.

- wikipedia.org

gambar: kemlu.go.id

Lebih penting mana: Mengarsipkan seni rupa atau Mengarsipkan perasaan?
aseptopan aseptopan Said:

Mengarsipkan keduanya, penting. Namun ada lagi yang tidak kalah penting: mengarsipkan harapan.

  • A: vain is just like, umm.. hopeless, hanged up..
  • B: oh, hanged up. just like clothes, uh?
  • A: yeaa.. I know you made some clothes
  • B: rather than made a problem, right?
  • A: *giggling*
  • B: .......

The Cribs - Cheat On Me (Live on Later With Jools Holland)

I could be someone else if you’d rather
Try to win you over like a new step father
smart but still a sucker for whoever asks you
i pictured the scene
so you wont have to spell it out for me

cos things go together
better than others
like manic depression
and hyper sexuality

that’s another, that’s another
cheat on me, cheat on me yeaaah

Giving up, without a thought
And then you’ll be the chosen one
Through which your friends live vicariously

Cause things go together
Better than others
Like manic depression
And hyper sexuality

That’s another, that’s another
Cheat on me, cheat on me yeaaah

——————

P.S.

There is Kate Nash, sitting pretty, sing along under the red light!
No words are enough to describe how beautiful you are :)