Membaca Karya Sebastian Diaz Morales: Ring (The Means of Illusion)

Ring (The Means of Illusion), (2006/2007)
Pada OK. Video FLESH 2011, Sebastian Diaz Morales menampilkan karya video instalasi berjudul Ring (The Means of Illusion). Karya ini merupakan salah satu karya yang mampu mencuri banyak perhatian pengunjung pada gelaran OK.Video FLESH. Selain letaknya di gedung utama Galeri Nasional Indonesia, Ring (The Means of Illusion) juga terdiri dari empat buah saluran proyektor, sehingga membutuhkan tempat yang sangat luas. Karya ini buat antara tahun 2006 sampai 2007, dimulai dengan memperlihatkan kedua mata senimannya dan melakukan beberapa kali kedipan. Setelah itu gambaran yang tampak ialah sebuah lanskap gurun, memberikan kesan tenang, dilanjutkan dengan adegan orang bermain tinju di atas ring yang memberikan kesan sebaliknya. Selain itu, video dengan durasi 12 menit ini menampilkan rekaman orang-orang berdemonstrasi.
Melalui Ring (The Means of Illusion), Sebastian Diaz Morales menampilkan bahwa kekerasan dewasa ini dipentaskan sebagai sebuah tontonan, seperti pada pertandingan tinju dan kumpulan demonstran. Sebastian mengubah materi video asli menjadi gambaran yang didominasi warna hitam dengan efek garis putih sebagai penanda bentuk. Efek garis ini juga terlihat dalam karya lain Sebastian seperti Lucharemos hasta anular la ley, (2005) . Dalam Ring (The Means of Illusion), Sebastian terlihat tidak menyuguhkan sebuah cerita, namun karya ini merupakan gabungan pembacaan visual dari sebuah kekerasan.

Lucharemos hasta anular la ley, (2005)
Sebastian Diaz Morales ialah seniman kelahiran Comodoro Rivadavia, Argentina, pada tahun 1975. Saat ini aktif berkarya di Amsterdam, Belanda dan Comodoro Rivadavia, Argentina.
Sumber foto: http://sebastiandiazmorales.net/sebastiandiazmorales.net/Ring.html
– Asep Topan, 11 Oktober 2011
Video Screening with Meiro Koizumi
Meiro Koizumi, Portrait of the Young Samurai (2009) Bertempat di Selasar Sunaryo Art Space, 8 Oktober 2011, seniman asal Jepang Meiro Koizumi mempresentasikan beberapa karya videonya sebagai bagian dari rangkaian Public Program OK. Video FLESH 2011. Dimulai jam 10 pagi dengan iringan gerimis kota Bandung, tidak kurang dari 40 orang menghadiri presentasi Meiro di Bale Handap Selasar Sunaryo Art Space bersama Agung Hujatnikajennong sebagai moderator. Meiro menjelaskan karyanya mulai dari sumber ide, proses pembuatan hingga apa saja yang ingin ia sampaikan. Karya pertama yang ia jelaskan ialah The Chair, karya ini berdurasi 3 menit 36 detik, dibuat pada tahun 2000. Ia menjelaskan bahwa karya ini berawal ketika ia membuat sketsa dengan pensilnya, kemudian menghasilkan suara goresan pensil yang menjadi ide dasar penciptaan karya tersebut. Pada The Chair, Meiro melakukan performance dengan melakukan gerakan-gerakan orang menggambar menggunakan pensil diatas objek sebuah kursi. Suara pensil yang kerap terdengar ketika menggambar ia tiru dengan mulutnya dengan bantuan pengeras suara, sehingga menghasilkan suara goresan pensil yang ia inginkan. Meiro menyebutkan bahwa suara yang ia keluarkan sangat sentimental dan mampu menghasilkan emosi yang luar biasa. Bukan hanya padaThe Chair, kecenderungan Meiro bereksplorasi dengan elemen suara juga hadir dalam karyanya yang lain seperti Amazing Grace (2001) dan Untitled (2000). Selain suara, terdapat beberapa karya Meiro yang lebih bereksplorasi pada aspek narasi. Karya berjudul Mum (2003) merupakan contoh karya naratifnya, selain Portrait of the Young Samurai (2009). Pada karya Mum, Meiro melakukan performance dengan menghubungi ibunya melalui telepon selular di sebuah ruangan. Diiringi musik yang menimbulkan kesan dramatis, ia hanya mengatakan kepada ibunya mengenai keadaanya dirinya yang sedang berada di medan perang. Suara letusan bom serta senjata api ia ciptakan dengan mulutnya sendiri, juga dengan bantuan pengeras suara. Namun pada Portrait of the Young Samurai, Meiro menampilkan kesan lain dari sebuah narasi yang dramatis. Kesan ini terbentuk karena dalam karya video ini ia menampilkan proses pembuatan video secara keseluruhan sehingga membuat penonton tertawa melihat talentdalam video ini yang berulang kali mengatakan hal sama, beberapa kalimat terakhir untuk orang tuanya, sebelum ia berangkat ke medan perang sebagai kamikaze dengan semangat samurai. Setelah melihat beberapa karya Meiro Koizumi, dapat dikatakan bahwa karya-karyanya merupakan gabungan antara video art dan performance art, atau biasa disebut sebagai karya video performance. Dengan kata lain, Meiro telah mengangkat bagaimana tubuh merespon teknologi pada setiap karyanya. Presentasi Meiro diselingi dengan istirahat yang dilanjutkan dengan diskusi bersama peserta dan banyak pertanyaan-pertanyaan bermunculan yang berkisar tentang proses kreatifnya. Selain public speech dan screening karya-karya Meiro pada 8 Oktober 2011, OK Video Flesh dan Selasar Sunaryo juga menggelar workshop video making dengan peserta terbatas pada 9 Oktober 2011 dengan Meiro sebagai mentor. Sumber foto: http://meirokoizumi.com/ – Asep Topan, 9 Oktober 2011
OK. Video Review: Curator’s & Artist Talk – Agung Hujatnikajenong

Salah satu rangkaian OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival 2011 yang berlangsung mulai tanggal 7-17 Oktober di Galeri Nasional Indonesia adalah sesi Curator’s and Artist’t Talk dengan pembicara pada hari pertama, 7 Oktober ini ialah Agung Hujatnikajenong. Dimulai pada pukul 14.30 di gedung C Galeri Nasional Indonesia, Curator’s and Artist’t Talk ini diikuti oleh 15 orang dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, jurnalis dan siswa SMA. Agung Hujatnikajenong mengatakan bahwa pengertian seni video, secara garis besar ialah sebuah ekspresi seni yang dibuat dengan medium video. Kemunculan seni video berawal mulai tahun 60-an, ketika Sony mengeluarkan produknya Sony Portapak ke pasaran. Sony Portapak merupakan alat perekam video pertama yang bisa digunakan oleh satu orang, karena sebelumnya alat perekam video membutuhkan banyak orang untuk mengoperasikannya. Dengan alat ini pula, kebiasaan masyarakat mulai berubah dan seniman saat itu pun mulai merespon perkembangan teknologi dalam proses berkarya mereka.
Agung Hujatnikajenong menjelaskan bahwa pameran OK. Video FLESH mencoba mengangkat respon tubuh kita terhadap perubahan teknologi, dalam hal ini ialah medium video. Lebih jelas lagi ia memberikan beberapa contoh langsung dan menjelaskan video yang dipamerkan di ruangan tersebut. Beberapa karya yang menjadi fokus Agung Hujatnikajenong ialah karya-karya dari Arahmaiani (Indonesia), Bill Viola (Amerika Serikat) dan Marina Abramović (Serbia). Ia juga memaparkan bahwa seni video kerap bersinggungan dengan performance art, sehingga memunculkan jenis seni baru, yaitu video performance. Selain di Galeri Nasional Indonesia, rangkaian acara OK. Video FLESH di hari pertama ini juga diadakan di The Japan FoundationJakarta, yaitu screening karya-karya Vincent Moon, seniman video asal Perancis dalam public program: video out.
– Asep Topan, 8 Oktober 2011
(Source: jarakpandang.net)
Opening: OK. Video – FLESH 5th Jakarta International Video Festival 2011

Lebih kurang jam setengah sembilan malam, Bapak Tubagus ‘Andre’ Sukmana selaku Kepala Galeri Nasional Indonesia membuka pameran
OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival 2011 tepat di depan pintu masuk gedung A (gedung utama) Galeri Nasional Indonesia. Sebelumnya, acara telah dimulai dengan visual mapping oleh Flicker Screen & Ricky ‘Baybay’ Janitra dan lantunan lagu-lagu dangdut gerobak ibukota yang mampu mencuri perhatian sekitar 700-an orang pengunjung di sisi kanan gedung utama Galeri Nasional Indonesia.
Dengan latar visual mapping, MC pada malam ini yaitu oomleo dan Nastasha Abigail memulai acara pembukaan OK. Video FLESH. Penyampaian ucapan terimakasih kepada beberapa pendukung acara dan media partner dilanjutkan dengan sambutan pameran OK. Video FLESH oleh Hafiz selaku kurator dan Artistic Director. Dalam sambutan kuratorialnya, Hafiz menyampaikan bahwa dalam konteks estetika seni video, metafora daging (flesh) secara material, ia terjemahkan dengan ‘melihat daging sejarah seni video’. Untuk itu pada gelaran OK. Video kali ini dimensi sejarah estetika seni video dimunculkan. Dengan demikian, bagaimana ‘daging’ seni video ini tumbuh dalam peta seni rupa dunia dapat dibaca dalam festival kali ini. Di dalamnya ada persinggungan antara seni video dengan film, seni konseptual, seni performans, dan praktik-praktik seni lainnya. Setelah selesai menyampaikan sambutannya, Hafiz kemudian memperkenalkan kurator lainnya yaitu Agung Hujatnikajennong, Farah Wardani, Mahardhika Yudha & Rizki Lazuardi serta semua seniman video yang berpartisipasi dalam festival kali ini kepada para pengunjung.
Adapun pengumuman tiga karya terbaik dari Open Submission festival kali ini disampaikan oleh Bapak Tubagus ‘Andre’ Sukmana, dilanjutkan dengan pembukaan pameran untuk mempersilahkan pengunjung memasuki Galeri Nasional Indonesia dan menikmati gelaran OK. Video FLESH. Tiga karya yang dinyatakan terbaik dari Open Submission OK. Video ke-5 ini berjudul Seven Shorts (Bryan Lauch dan Petra Pokos/Slovenia), Newly Risen Decay (Giada Ghiringhelli/Switzerland) sertaOne Evening at NY Gentleman’s Club (M.R. Adytama Pranada/Indonesia).
Dalam pembukaan hari ini, 6 Oktober 2011, Galeri Nasional Indonesia membuka semua gedung yang digunakan untuk OK. Video FLESH ini –meliputi gedung A (utama), gedung B, gedung C serta gedung serba guna– hingga jam sepuluh malam. Namun acara masih berlanjut hingga pukul 12 tengah malam dengan music performances oleh DJ Keke (The Secret Agents), Racun Kota, Rharharha, DJ Adder, Jalan Surabaya (DJ Danger Dope with MC Billal), dan VJ Ijul.
– Asep Topan, 7 Oktober 2011
(Source: news.okvideofestival.org)
ruangrupa
proudly present:
OK. Video FLESH
5th Jakarta International Video Festival 2011
Exhibition / Competition / Discussion / Public Program
6 - 17 October 2011 / National Gallery of Indonesia, Jakarta
Artist:
Alexander Kluge, Apichatpong Weerasethakul, Araya Rasdjarmrearnsook, Henry Foundation, Joan Jonas, LC Von Sukmeister, Marina Abramovic, Maulana M Pasha, Melati Suryodarmo, Reinaart Vanhoe, Reza Afisina , Sebastian Diaz Morales, Stelarc, Tintin Wulia, Vito Acconci, and many more.