Kau terpelajar, cobalah bersetia pada katahati.


Posts tagged ruangrupa


Text

May 6, 2013
@ 2:22 am
Permalink
1 note

Dalam Proses

Proses merupakan runtunan perubahan dalam perkembangan sesuatu. Dalam konteks ini, seni grafis. Kata “proses” dalam tajuk pameran ini bisa dimaknai sebagai dua hal: pertama, menjelaskan mengenai seni grafis secara luas sejak teknik cetak pada bidang dwimatra ini ditemukan. Sebagai cabang seni yang sangat erat kaitannya dengan teknologi cetak, seni grafis merupakan satu cabang seni rupa yang sulit dirumuskan secara umum. Tentu hal itu  disebabkan oleh perkembangan teknologi cetak, yang membuat seni grafis pun terus berubah dan karena itu setiap definisi atas dirinya akan terus, dan sudah seharusnya, berkembang pula.

 Kenyataan ini mengerucutkan kesimpulan bahwa seni grafis merupakan salah satu seni yang sangat elastis sejak awal perkembangannya. Mudah berubah bentuknya, dan mudah kembali ke bentuk asal. Kita ambil contoh, pada abad kedua sebelum masehi di Cina, seni grafis atau printmaking mungkin hanya dikenal dengan jenis teknik cetak tinggi. Ketika pada 1798, teknik cetak datar litografi ditemukan oleh Alois Senefelder, pengertian seni grafis pun berkembang. Begitu seterusnya, ketika penemuan baru dengan teknik cetak dalam dan cetak saring ditemukan, semakin berkembang pula pengertian seni grafis yang kita kenal sekarang ini. Dalam perkembangan terakhir, cabang seni rupa ini mampu memberikan pengaruh pada awal perkembangan seni media baru.

Perkembangan pengertian tentang seni grafis memiliki ketegangannya masing-masing di setiap masa. Dalam dunia seni grafis mutakhir, khususnya di Indonesia, terminologi konvensi seni grafis menjadi wacana yang tak jarang diperbincangkan. Istilah konvensi ini sangat merujuk pada pengertian teknik cetak manual yang terdiri dari empat bagian utama: cetak tinggi, cetak dalam, cetak datar, dan cetak saring. Pengertian konvensi di tanah air pun, tak serta-merta merujuk pada tradisi dunia “Barat”, namun disesuaikan dengan konteks Indonesia mengenai material cetak, bahkan pola kerja. Jika merujuk pada hal tersebut, tentu saja hal ini berseberangan dengan elastisitas seni grafis, seolah menutup kemungkinan baru yang bisa terjadi, yang disebabkan oleh perkembangan teknologi cetak itu sendiri.

Kedua, adalah makna “proses” yang lebih merujuk pada pola kerja seni grafis itu sendiri. Umumnya, sebuah karya seni diperlihatkan sebagai sebuah hasil akhir. Namun tak jarang, sebuah proses sangatlah penting untuk diperhatikan. Dalam seni grafis, proses kerja memiliki peranan yang sangat vital karena sangat berkaitan dengan alat cetak yang tak sedikit jumlahnya. Dalam beberapa teknik, seperti cetak dalam dan cetak datar, mesin yang digunakan sangat terbatas, bahkan keberadaanya di Indonesia masih bisa dihitung dengan jari. Tentu saja, wacana penting dalam teknik cetak ini ialah kemampuannya untuk melipatgandakan, yang sudah seharusnya dilihat sebagai kelebihan seni grafis, sekalipun tak sedikit yang menganggapnya sebagai sebuah kekurangan.

Seni grafis pada mulanya tak masuk dalam kategori fine art. Sejarah memaparkan kegiatan mencetak pada bidang dwimatra ini awalnya digunakan sebagai medium ilustrasi, distribusi kitab suci, atau propaganda politik. Tentu, dalam hal ini sifat reproduktifitas seni grafis menjadi sebuah kelebihan. Masuknya teknik cetak ini sebagai bagian dari fine art (dalam istilah “Barat”: dari printmaking menjadi fine art printmaking) menimbulkan isu baru dikarenakan sifatnya yang bisa digandakan. Masih banyak kalangan yang belum bisa memahami konsep orisinalitas dalam karya seni grafis—bahwa setiap karya seni grafis yang dicantumi tanda tangan dan edisi oleh seniman adalah karya orisinal. Hal ini tentu tak lepas dari kenyataan bahwa seni grafis kemudian berada sejajar dengan karya-karya fine art lainnya semisal drawing dan lukisan, yang tidak memiliki kemampuan penggandaan seperti seni grafis. Kerap kali dalam hal ini, kemampuan penggandaan tersebut dianggap sebagai sebuah kekurangan. Sebagai sesuatu yang inklusif, tak beraura.

Dalam pameran “PRINT: PROCESS” ini, para perupa mengkritisi isu orisinalitas dalam sebuah karya fine art, dengan menjadikannya strategi artistik yang lain pada setiap karyanya. Cara pandang mereka dalam menilai kemampuan penggandaan seni grafis sebagai kelebihan merupakan optimisme, yang menjauhkan sikap pragmatis dari masing-masing pegrafis. Lebih dari itu, teknik seni grafis yang beragam memungkinkan mereka membuat karya tidak hanya dalam satu gaya visual. Setiap teknik memiliki kesan yang berbeda dengan teknik lainnya.

Lima perupa muda diundang untuk mempresentasikan karya mereka pada pameran kali ini. Tiga di antaranya merupakan komunitas yang intens berkarya dengan teknik seni grafis: Taring Babi, Grafis Huru Hara, dan Refreshink Printmaking. Sementara itu, Putri Ayu Lestari bersama Syaiful Ardianto hadir sebagai seniman individu dalam pameran ini. 

Sifat demokratis dalam karya seni grafis dan budaya cetak pada umumnya, menjadikan kegiatan cetak-mencetak begitu dekat dengan masyarakat. Ini yang diperlihatkan oleh karya-karya Syaiful Ardianto. Berupa rangkaian found image gambar togel dan tafsir mimpi yang ia pilih berdasarkan relasinya dengan kegiatan cetak di masyarakat, yang kemudian dicetak ulang dalam ukuran dan teknik presentasi yang lain, dengan menggunakan teknik cetak saring di atas kertas. 

Selain dekat dengan masyarakat, karya seni grafis berperan penting dalam pembentukan budaya populer di masyarakat. Hal ini ditangkap oleh komunitas seni grafis Refreshink Printmaking sebagai gagasan awal karya mereka. Beberapa produk kemasan yang sering ditemukan dalam hidup masyarakat—yang awalnya sama sekali tak bisa dijual-belikan, seperti cinta dan agama—mereka tampilkan dalam bentuk lain. Menggunakan teknik cetak saring, mereka merespon fenomena komodifikasi yang sudah menjadi rahasia umum ini, dengan menggambarkan kembali produk-produk yang dengan mudahnya bisa diperjualbelikan.

Sementara itu, Komunitas Taring Babi lebih menekankan pada pemanfaatan medium cetak seni grafis sebagai alat propaganda mereka dalam merespon isu sosial-politik yang terjadi dewasa ini. Komunitas ini bergerak seiring dengan perlawanan mereka terhadap kemapanan yang juga mereka lakukan dalam jalur yang lain, yaitu melalui musik punk rock. Pemilihan teknik cetak tinggi cukil kayu memberikan kesan tegas dan keras, memperkuat kesan pada isu yang mereka angkat. 

Isu kekerasan dan tabiat buruk manusia, adalah tema yang diangkat oleh Putri Ayu Lestari dalam karya cetak dalam dengan teknik drypoint. Karya drypoint memiliki karakter garis yang lebih kasar jika dibandingkan dengan teknik cetak dalam lainnya, yaitu etsa. Sisa retakan pada pelat yang digores langsung oleh jarum besi memungkinkan tinta yang dicetak masuk ke dalam sela-sela retakan itu, membuat garis yang dihasilkan terkesan lebih kasar. Dengan teknik presentasi sedemikian rupa, narasi mengenai kekerasan menjadi lebih kuat ia sampaikan melalui karya grafisnya.

Selain itu, sekumpulan pegrafis muda dari Universitas Negeri Jakarta bernama Grafis Huru Hara, memanfaatkan jumlah anggotanya yang banyak untuk membuat sebuah kumpulan karya grafis dengan berbagai teknik dalam bentuk buku. Masing-masing karya dicetak terbatas. Sebagian disatukan dalam bentuk buku, sebagian edisi lainnya dipresentasikan dalam ruang galeri dengan membentuk sebuah kalimat populer yang menjadi jargon isu keberagaman dan toleransi di Indonesia: Berbeda dan Merdeka 100%.

Seni grafis bukan hanya menghasilkan karya yang lebih demokratis. Banyaknya perupa yang bekerja atas nama komunitas, juga semakin menggantikan status seniman sebagai otoritas tunggal terhadap karya seni. Dan dengan sikap optimis, setiap ragam teknik cetak seni grafis serta prosesnya yang rumit itu, bisa dimanfaatkan menjadi sebuah proses yang memungkinkan para perupa untuk terus bergerak mencari kemungkinan baru dalam kegiatan artistik mereka.

Asep Topan

Kurator untuk pameran seni grafis “PRINT: PROCESS”

RURU Gallery, Jakarta, 2013


image


Text

Nov 19, 2012
@ 9:07 am
Permalink
1 note

Ketika Diri Sendiri Dipertanyakan

Identitas, sebuah kata yang saya pikir tepat untuk melihat isu besar yang diangkat oleh Saleh Husein dalam pameran tunggal pertamanya ini. Sebuah hasil dari pencarian asal-usul keluarganya yang berlatar belakang etnis Arab. Saleh yang dilahirkan di Jeddah pada 1982 dari keturunan Arab-Jawa, menempuh pendidikan akademisnya di jurusan seni lukis Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Sebagai seniman, ia banyak terlibat dalam berbagai perhelatan seni rupa, seperti padaJakarta Biennale XIII 2009: ARENA di Jakarta, serta Occupying Space: ASEAN Performance Art Event  di Galeri Nasional Indonesia; selain juga dikenal sebagai salah satu gitaris grup musik White Shoes and The Couples Company serta The Adams. Pameran dengan tajuk Riwayat Saudagar ini terselenggara mulai 20 Oktober hingga 2 November 2012, di RURU Gallery. Saleh bukanlah seniman sekaligus musisi pertama yang berpameran tunggal di sini. Sebelumnya, terdapat beberapa nama yang pernah menghelat karya-karya visualnya di RURU Gallery: Jimi Multahzam pada pameran JIMI! JIMI!, Aprilia Apsari dengan Rayuan Pulau Kelapa serta pameran tunggal Henry Foundation yang bertajuk Copy Paste.

Pada pameran ini, pengunjung sangat dimudahkan dengan tata letak pameran yang sangat baik. Saleh tidak menampilkan karya yang terlalu banyak, tidak ada instalasi berlebihan. Semua tertata rapih, bukan hanya mempertimbangkan keseimbangan antara satu karya dan lainnya: ia mempertimbangkan vista, kenyamanan pengunjung dalam melihat karya. Dalam Seri karya Spread,dibutuhkan sekurang-kurangnya jarak 4 meter untuk melihat karya ini dengan nyaman. Karakter goresan charcoal  yang kasar akan menjadi lebih halus, terkaburkan oleh jarak. Ini penting, setidaknya ketika retina mata kita menangkap karakter wajah pengantin wanita yang halus. Karya ini menampilkan potret pernikahan dirinya, saudara serta kerabat. Menggambarkan pencampuran etnis Arab dengan pribumi melalui pernikahan. Begitu pun pada seri Identification 1-10 yang berukuran lebih keciljarak yang dibutuhkan pun lebih dekat. Selain itu, Ale menggambarkan lebih rinci dengan latar belakang pada hampir setiap karya kanvas bulat berdiameter 20 cm itu. Inilah juga yang menjadi pembeda karya ini dengan karya-karya lainnya yang tidak memiliki latar: berupa figur, dengan rekaman ruang tak tentu. Identification, digambarkan dengan pelbagai citraan dari benda seperti lampu, tenda, tubuh serta lanskap. Setiap karya tidak berdiri sendiri, sangat terlihat ada kesan bahwa Saleh ingin memperlihatkan proses. Ada awal, ada akhir. Idealnya, karya ini dapat dilihat berurutan dari kanvas paling kiri. Ini merupakan cerminan tradisi membaca di Indonesia yang bermula dari arah kiri, ke kanan. Tentu beda jika kita membandingkan dengan tradisi membaca tulisan Arab, misalnya. Tentu saja sangat penting, karena ini akan mempengaruhi interpretasi apresiator. Lain hal jika setiap karya pada seri ini memang berdiri sendiri, tidak berupa cerita yang saling berkaitan satu dan lainnya.

Pada seri Journey yang berjumlah empat karya, Ale menampilkan gambaran dari kapal uap pengangkut imigran dari Arab menuju Indonesia, seperti yang diriwayatkan dalam pameran ini. Empat lukisan fotografis, dengan penyuntingan sederhana yang menampilkan tumpukan-tumpukan warna datar –hampir tanpa gradasi– membentuk keempat kapal tersebut di atas lautan. Warna lebih gelap digunakan untuk melukiskan kapal uap yang menjadi obyek utama pada seri ini. Pertanyaannya ialah, kenapa harus dibuat empat karya yang hampir mirip? Hanya letak horison dan sudut pandang penggambaran serta warna yang menjadi pembeda. Itu pun tidak menguatkkan definisi journey seperti yang tertera pada judulnya. Ada baiknya jika kita melihat karya ini secara keseluruhan, keempatnya sekaligus. Mungkin, kita tidak akan mendapatkan keterangan yang jelas apalagi rinci mengenai perjalanan yang Saleh maksudkan, akan tetapi dari sini terlihat jelas: kekuatan karya ini terletak pada komposisi dan paduan warna halus yang memanjakan mata kita, enak dilihat. Maksud saya, pada karya ini pertimbangan estetis terasa lebih dominan dbandingkan pertimbangan konseptual, ketika si seniman memproduksi karya ini.

Pada Genetic Marker, Saleh menggambarkan genealogi atu garis keturunan ia dan keluarganya. Pohon keluarga digambarkan melalui instalasi sederhana pada salah satu bagian tembok RURU gallery, berujung pada sebuah nama bertuliskan Muhammad. Saleh sedikit mengecoh pemahaman kita yang, jika dengan cepat berkesimpulan akan menyangka bahwa ia merupakan keturunan Nabi Muhammad. Perhatikan satu-demi satu nama yang tertera dalam genealogi tersebut, maka kita akan menemukan kejanggalan: Saleh menuliskan nama wanita dalam genealogi tersebut. Padahal seperti yang ia ungkapkan, penulisan nama seorang perempuan pada garis keturunan etnis Arab tidak diperbolehkan. Saleh tidak mengindahkannya. Ini secara tidak langsung merupakan kritik halus terhadap budaya patriarki yang kita lihat di sana. Sekaligus memperlihatkan paradoks ketika semakin marak orang mengaku keturunan Nabi Muhammad, padahal sejatinya Nabi Muhammad sendiri tidak memiliki seorang anak laki-laki. Bukankah itu berarti keturunannya telah selesai?

***

Tidak ada eksplorasi medium yang mengejutkan dalam pameran ini. Keterampilan menggambar senimannya sangat terlihat pada guratan charcoal, akrilik di atas kanvas serta mural di tembok dan lantai galeri yang menggambarkan peta jalur yang dilewati leluhur Saleh sebelum ke Indonesia: Arab – India – Indonesia. Foto-foto dihadirkan sebagai rekaman memori masa lalu, bagi diri sendiri, serta leluhurnya. Sesuatu yang wajar saya pikir, karena pameran berbasis riset ini terlahir dari tumpukan data yang kemudian diwujudkan menjadi sebuah karya bahkan pameran. Pilihan-pilihan teknis yang dihadirkan berdasarkan kebutuhan senimannya dalam mengolah data hasil riset tersebut. Sebuah karya video berjudul Brief History diletakan di pojok ruangan yang lebih gamblang dalam menjelaskan Saleh dan leluhurnya. Ada kejanggalan di sini, ketika semua yang kita lihat dalam video tersebut menjelaskan semuanya. Sekalipun tidak melihat karya-karya Saleh yang lainnya, kita bisa dengan mudah mengetahui apa yang ia ceritakan dengan karyanya. Interpretasi yang dibangun oleh pikiran kita terhadap karya-karya lain (selain video tersebut) mulai terusik. Meskipun tidak seutuhnya, tentu saja.

Pencarian identitas dan menampilkannya ke dalam karya seni, bukan pertama kalinya terjadi di ranah seni rupa Indonesia. Hal ini bermula dari pertanyaan sederhana tentang siapa sebenarnya kita, dari mana asal kita dan mengapa kita berada di sini. Sebelumnya, FX Harsono persis melakukannya dengan sebuah pameran bertajuk The Erased Time pada penghujung 2009 lalu, di galeri Nasional Indonesia. Kesamaan dalam penyelenggaraan pameran seperti ini ialah: semua karya yang ditampilkan bukan hanya menampilkan keterampilan artistik sang seniman, mereka juga mengharuskan diri melakukan riset sebelum karya-karyanya dibuat. Permasalahan yang diangkat begitu personal, menyangkut sejarah dan budaya tentunya. Saleh menempatkan ia sendiri dan identitasnya sebagai subjek utama dalam pameran ini. Akan tetapi tidak berarti karya-karyanya bersifat subyektif, justru sebaliknya, dengan riset yang ia lakukan pameran ini menarik kita pada pemahaman yang lebih luas. Bukan hanya mengenai sejarah sebuah etnis, klan atau seorang Saleh Husein, pameran ini memperlihatkan kita bagaimana negara ini terbentuk dari sebuah keberagaman. Pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan, merangsang kita mencari tahu lebih banyak perihal kehidupan sosial masyarakat Indonesia sebelumnya. Melalui Riwayat Saudagar ini, pesan penting dari Saleh Husein sangat jelas, sebelum mencari tahu mengenai sejarah dunia atau orang lain, akan lebih baik jika kita mengetahui sejarah diri kita sendiri. Itulah yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan “sederhana” di atas: siapa sebenarnya kita, dari mana asal kita serta mengapa kita berada di sini? Dan Saleh memaksa kita menanyakannya juga pada diri kita sendiri.

- Asep Topan, Nopember 2012

Sumber foto: Dokumentasi ruangrupa



Text

Nov 16, 2011
@ 1:12 am
Permalink
9 notes

OK. Video FLESH 2011: Special Screening 25 Music Videos in Indonesia (2001-2011) & Music Concert

Malam ini, 13 November 2011 untuk pertama kalinya di Indonesia, beberapa karya video musik ditonton oleh lebih kurang 550 orang dalam ukuran layar besar, di Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dalam pengantar kuratorialnya, Indra Ameng menjelaskan bahwa ke-25 video musik terpilih ini merupakan hasil kurasi yang menitik beratkan pada video musik yang memiliki kekuatan visual independen sebagai kekuatan artistik, sehingga bukan hanya menjadi media promosi, tetapi lebih dari itu ialah sebagai “kolaborasi” dari sebuah kerja audiovisual.

Kehadiran video musik sebagai medium ekspresi artistik ini muncul pada awal tahun 2000-an dan menjadi fenomena tersendiri bagi kebudayaaan populer di Indonesia. Melihat perkembangan ini, pada tahun 2003 OK. Video mengadakan program penayangan video musik secara khusus dan workshop video musik pada awal penyelenggaraanya tersebut, dan dilanjutkan lagi pada program video musik dengan tema subversion di tahun 2005.

Video musik yang pertama kali diputar dalam special screening malam ini ialah “Selecta Pop – Club Eighties” karya Platon (2001), dilanjutkan dengan “Mendekati Surga – Koil” (Xonad / Cerahati, 2002), “Life Keeps On Turning” – Mocca (Lynda Irawaty, 2003), dst. Setelah sebelumnya Hightime Rebellion membuka pertunjukan di area balkon GBB, pemutaran ke-25 video musik ini juga diselingi oleh pertunjukan menarik band-band lainnya  seperti White Shoes & The Couples Company, The Upstairs dan Sir Dandy. Salah satu yang paling mendapat perhatian penonton ialah pada pemutaran video musik ke-24. Bejudul “Jakarta Motor City – Sir Dandy” (Tandun, 2011), karena sebelum video musik ini diputar, Sir Dandy, musisi asal Bandung ini telah membawakan lagu tersebut di area balkon GBB yang mendapat banyak respon dari pengunjung dengan lirik-lirik satirnya tentang kota Jakarta. Video musik terakhir dalam special screening malam ini ialah “Ode Buat Kota – Bangkutaman” (Anggun Priambodo, 2010), memperlihatkan sisi lain dari kota Jakarta. Dalam video musik ini kita bisa melihat Jakarta seakan menjadi kota mati yang ditinggal oleh penduduknya. Jalanan kosong tanpa kendaraan, sesekali hanya terlihat beberapa orang dan anjing di jalanan. Dilanjutkan penampilan live mereka (Bangkutaman) dengan membawakan beberapa lagu yang diakhiri oleh lagu Ode Buat Kota sebagai akhir dari keseluruhan acara special screening ini.

Selain pemutaran khusus 25 video musik yang paling menginspirasi dari band dan musisi Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, acara malam ini juga menampilkan pertunjukan musik live bersama The Upstairs, Bangkutaman, White Shoes & Couples Company, serta di area balkon diisi oleh Sir Dandy dan Hightime Rebellion. Selain itu, terdapat Bazaar yang menawarkan produk-produk unik dan kreatif, ditambah artwork karya seniman-seniman kontemporer muda, antara lain dari Komunitas Pencinta Kertas (KPK), Gardu House (street art), ruru shop (ruangrupa artist initiative), Ika Vantiani (handmade artworks), Jakarta 32˚C (Komplotan Mahasiswa Jakarta), dan sebagainya. GIF Festival yang terdapat dalam pameran OK. Video di Galeri Nasional Indonesia beberapa saat lalu juga ambil bagian dalam acara ini, dipresentasikan tepat di depan pintu masuk GBB bersama video mapping karya Ricky Baybay Janitra, Chiefy Flickerscreen dan Abi Rama.

Berikut ialah keseluruhan karya video musik yang diputar dalam special screening kali ini beserta urutan penanyangannya:

01.    Selecta Pop – Club Eighties

(2001 / Video oleh Platon)

02.    Mendekati Surga – Koil

(2002 / Video oleh Xonad / Cerahati)

03.   Life Keeps On Turning - Mocca

(2003 / Video oleh Lynda Irawaty)

04.   Burn – Brisik

(2002 / Video oleh Ari Satria Darma)

05.   Ode to A Scar – Anomicratrap

(2002 / Video oleh Satellite of Love)

06.   Train Song – Lain

(2003 / Video oleh The Jadugar)

07.   Modern Bob – The Upstairs

(2004 / Video oleh Syauqi Tuasikal)

08.   Celaka – Kornchonk Chaos

(2004 / Video oleh Aswan Tantra)

09.   Taste of Harmony – Homogenic

(2004 / Video oleh Cerahati)

10.   A.S.T.U.R.O.B.O.T. – Goodnight Electric

(2005 / Video oleh Anggun Priambodo)

11.   Eksploitasi – Teknoshit

(2002 / Video oleh Eddy Cahyono)

12.   Lihat – Sore

(2005 / Video oleh Ramondo Gascarro dan Zeke Khaseli)

13.   Lingkar Labirin – The Brandals

(2004 / Video oleh The Jadugar)

14.   Serigala Militia – Seringai

(2006 / Video oleh Tromarama)

15.   Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia Yang Ada Di Seluruh Dunia – Naif

(2005 / Video oleh The Jadugar)

16.   Detektif Flamboyan – C’mon Lennon

(2004 / Video oleh Henry Foundation)

17.   Absolute Beginner Terror – Teenage Death Star

(2007 / Video oleh Anggun Priambodo

18.   Mighty Love – Zeke & The Popo

(2009 / Video oleh Bian Dwijo )

19.   Menulis Lagu Cinta - Bite

(2010 / Video oleh Heytuta)

20.   Banyak Asap Disana – Efek Rumah Kaca

(2009 / Video oleh Famosando)

21.   Amerika – Armada Racun

(2011 / Video oleh Armada Racun, Hyde Project dan Batu&Gunting) 

22.   Wanderlust – Santa Monica

(2007 / Video oleh Dibyokusumo Hadipamenang)

23.   Mesin Penenun Hujan – Frau

(2010 / Video oleh Nana Miyagi dan Dolly Rosseno)

24.   Jakarta Motor City – Sir Dandy

(2011 / Video oleh Tandun)

25.   Ode Buat Kota – Bangku Taman

(2010 / Video oleh Anggun Priambodo)


- Asep Topan, 2011.



Text

Oct 18, 2011
@ 4:00 am
Permalink
5 notes

GIF Festival 2011

GIF Festival adalah pameran seni rupa kontemporer tentang gambar (frame) bergerak atau yang biasa disebut dengan animasi sederhana (animated gif). Penjelasan sederahana itulah yang akan kita dapatkan ketika kita melihat salah satu monitor di ruangan serba guna (bangsal) Galeri Nasional Indonesia. Bisa dikatakan, GIF Festival 2011 ini merupakan sebuah pameran yang berada di dalam sebuah pameran, yaitu OK. Video FLESH 2011.

Pameran ini menampilkan puluhan karya seni rupa dalam bentuk digital, mengunakan format GIF (Graphic Interchange Format). GIF pertama kali diperkenalkan oleh CompuServe pada tahun 1987. Ekstensi file GIF memiliki ukuran yang relatif kecil, memilki fungsi sebagai gambar yang bisa bergerak maupun statis dan sering kita jumpai pada halaman-halaman website di dunia maya. Dalam GIF Festival 2011 ini, oomleo selaku kurator mengajak para seniman muda kekinian untuk bereksperimen membuat gambar bergerak dengan ekstensi file benama GIF. Tidak kurang dari 100 karya dari 56 seniman bisa kita nikmati dalam pameran yang digagas oleh Ricky baybay Janitra, Andi Rharharha, Ibnu Rizal, dan oomleo ini. Selain dalam OK. Video FLESH, karya-karya GIF Festival 2011 ini juga bisa kita lihat di blog resminya yaitu http://giffestival.tumblr.com/.

Meskipun hari ini, 17 Oktober 2011 merupakan hari terakhir gelaran OK. Video FLESH di Galeri Nasional Indonesia, namun masih ada beberapa program Video Out OK. Video FLESH yang akan berlangsung hingga tanggal 29 Oktober 2011. Beberapa tempat yang menjadi venue Video Out ini ialah Japan Foundation, RURU Gallery, Artsphere, vivi yip art room, LINGGARseni serta Kineforum.

– Asep Topan


Text

Oct 17, 2011
@ 12:24 am
Permalink
4 notes

Phantoms of Nabua: Membakar Hantu-hantu Nabua

Phantoms of Nabua ialah sebuah film pendek karya Apichatpong Weerasethakul, dibuat pada tahun 2009 dengan durasi selam 10 menit 56 detik. Phantoms of Nabua menggambarkan sebuah tempat dengan sebuah cahaya lampu neon. Pada tempat itu terdapat sebuah layar yang memperlihatkan sebuah tempat berulangkali di sambar oleh petir pada malam hari. Beberapa orang laki-laki bermain bola api tepat di depan layar tersebut, di bawah lampu neon tadi. Mereka bermain bola api, meninggalkan jejak api yang membakar rerumputan, menendang ke atas dan akhirnya membakar layar putih tersebut. Pandangan mereka serentak tertuju pada kain layar yang terbakar.

Phantoms of Nabua dibuat di desa Nabua, sebuah desa kecil yang tenang di timur laut Thailand. Kebanyakan warga Nabua merupakan petani yang samasekali tidak tertarik dengan permasalahan politik. Namun, diantara tahun 1960 sampai tahun 1980an Nabua dicurigai sebagai tempat para simpatisan komunis, sehingga berada di bawah kontrol militer yang sangat ketat pada tahun-tahun tersebut. Para petani yang menolak dan melawan sikap pemerintah ini kemudian diserang dan dibunuh tanpa sebab oleh tentara dan mereka yang selamat diusir ke hutan.

Nabua juga memiliki legenda tua yang bercerita tentang hantu janda yang kerap menculik pria dan membawa mereka ke dunia lain. Apichatpong Weerasethakul menggunakan mitos ini untuk mengatakan sesuatu yang lebih luas lagi, terkait dengan peristiwa kemanusiaan yang menimpa daerah ini di masa lalu. Phantoms of Nabua merupakan simbolisasi pembebasan jiwa para lelaki yang menjadi korban di wilayah tersebut.

Apichatpong Weerasethakul ialah seniman kelahiran Bangkok, pada tahun 1970. Karya-karyanya telah banyak mendapatkan pengakuan dari dunia internasional. Filmnya yang berjudul Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives mendapatkan pialaPalme d’Or pada Cannes Film Festival 2010 serta Syndromes and a Century diputar pada gelaran Venice Film Festival ke-63 dan merupakan film Thailand pertama yang masuk dalam kompetisi tersebut.

*Untuk menonton keseluruhan film Phantoms of Nabua, klik di sini.


– Asep Topan, 17 Oktober 2011


(Source: )


Text

Oct 15, 2011
@ 3:50 pm
Permalink
6 notes

BURNING (a live film about MOGWAI), oleh Vincent Moon

Dalam serangkaian program Video Out OK. Video FLESH 2011, tanggal 15 Oktober 2011 diadakan pemutaran salah satu film karya Vincent Moon berjudul Burning, di Kineforum. Selain oleh Vincent Moon, film buatan tahun 2009 ini juga di sutradarai oleh Nat le Scouarnec yang sama-sama berasal dari Paris. Burning merupakan film dokumenter yang merekam pertunjukan live band Post-Rock asal Skotlandia, Mogwai.

Film ini dibuat oleh Vincent Moon dan Nat le Scouarnec tepatnya pada bulan April 2009, ketika Mogwai live performing di Music Hall of Williamsburg, Brooklyn, NY. Dalam Burning, kita bisa melihat bagaimana Moon dan Scouarnec mampu merekam momen paling  berkesan dalam sebuah pertunjukan live. Dengan durasi selama 48 menit, Moon dan Scouarnec menggunakan efek hitam-putih pada keseluruhan film ini dari awal hingga akhir. Kesan kontras, bayangan serta cahaya begitu menonjol dalam film ini, selaras dengan tipikal musik Mogwai yaitu instrumental berbasis alunan gitar yang panjang, dipadukan dengan penggunaan efek dan distorsi yang berat dan kontras. Burning dapat menunjukan kepada kita bahwa sebuah film dokumenter live band bisa memiliki nilai artistik yang sanagt tinggi, berbeda dengan rekaman live band pada umumnya yang cenderung seragam.


Selain bersama Mogwai, Vincent Moon bersama rekannya Chryde juga membuat project berupa serial dokumenter di ruang terbuka di lokasi-lokasi yang tak terduga bersama musisi/band lainnya. Project ini dinamai the Take Away Show Project, La Blogotheque’s video podcast dan sejak tahun 2006 telah membuat lebih dari 120 video musik bersama band/musisi seperti Liars, R.E.M., Arcade Fire, Tom Jones, The Ex, De Kift, Stephen Malkmus, Scout Niblett, Sigur Rós, Caribou, Vic Chesnutt, Architecture in Helsinki, The National, The Shins, Andrew Bird, Okkervil River, Xiu Xiu, Sufjan Stevens, dan David Bazan.

Sumber gambar:  www.vincentmoon.com  dan www.blogcritics.org

 

–Asep Topan, 16 Oktober 2011.


Text

Oct 14, 2011
@ 2:22 pm
Permalink
1 note

Melihat Pergeseran Fungsi Video-sharing di Indonesia Melalui Digital Viral

Digital viral adalah sebuah eksperimentasi untuk melihat dari sudut pandang lain pergerakan video di ranah virtual yang kian menggejala dalam beberapa tahun terakhir[1]. Setiap karya video dengan tema Digital Viral dalam OK. Video FLESH ini bisa kita liaht dengan bentuk persentasi yang lain dengan karya video lainnya. Ratusan video disebar di gedung A dan B Galeri Nasional Indonesia dalam puluhan layar kecil, melalui alat pemutar musik dan video (iPod).


Melalui Digital Viral, kita bisa melihat adanya pergeseran fungsi dari internet dan video-sharing yang pada awalnya merupakan sarana hiburan dan media sosialisasi semata. Dewasa ini, video bisa menjadi alat untuk mempromosikan diri serta menjadi bukti beberapa kasus skandal seks dan politik. Bebeberapa karya video dalam tema Digital Viral memperlihatkan bagaimana semua orang bisa menikmati dan memanfaatkan kebebasan yang ditawarkan oleh teknologi, mengaktualisasikan diri mereka dalam sebuah video dan menyebarkannya melalui internet.

Tim kuratorial untuk Digital Viral OK. Video FLESH 2011 menetapkan 26 tema video berdasarkan isu yang dominan dan dapat mewakili gejala serta fungsi penggunaan video di internet oleh masyarakat Indonesia sekarang ini. Tema-tema tersebut ialah: Spoof Politik, Spoof Musik, Spoof Film, Gender, Kecelakaan, Hoax, Idol, Talent Show, Selebriti mainstream, Selebriti Viral, Aktivisme, Hack, Science, Leaks, Pesan Moral, Supranatural-Klenik, How-to, Olahraga, Jenius Lokal, Eksperimentasi, Plurarisme, Religi, Lipsync dan Million Viewers.[2]

Pembagian tema di atas memungkinkan kita menemukan video yang bisa memberikan kesan berbeda-beda, mulai dari video yang sangat menghibur, mengharukan bahkan menakutkan. Selain di persentasikan dengan puluhan unit layar kecil, video-video ini dilengkapi juga dengan maskot virus bernama FLESHY untuk membedakannya dari sesi kuratorial lain.

–Asep Topan, 15 Oktober 2011.

[1] Wardani, Farah: “Digital Viral: Sebuah Diagnosa Singkat”, Katalog OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival, 2011. Hlm. 134.

[2] Wardani, Farah: “Digital Viral: Sebuah Diagnosa Singkat”, Katalog OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival, 2011. Hlm. 136.


(Source: news.okvideofestival.org)


Text

Oct 13, 2011
@ 3:11 pm
Permalink
3 notes

Kehidupan dan Kematian Tidak Harus Dipahami Sebagai Sesuatu Yang Berlawanan

The Class (2005) ialah video karya seniman perempuan asal Thailand, Araya Rasdjarmrearnsook. Dalam video berdurasi 6 menit 3 detik ini, Araya melakukan performans dengan berperan menjadi seorang guru. Ia mengajar, menulis di papan tulis, menerangkan pelajaran dengan buku di tangannya dan berinteraksi secara langsung kepada enam sosok mayat sebagai muridnya. Pelajaran yang ia terangkan kepada enam sosok muridnya ialah tentang kematian. Melalui karya ini, Araya menampilkan sebuah tontonan yang dapat membuat kita bertanya: apakah kematian itu sesungguhnya? Mungkin hanya murid-murid Araya yang tahu persis apa kematian dalam video tersebut, bukan hanya karena telah dijelaskan oleh Araya, bahkan secara langsung mereka telah mengalaminya. Dengan performansnya ini, ia juga membuat kita berpikir bahwa sesungguhnya kehidupan dan kematian tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang berlawanan.

Araya Rasdjarmrearnsook merupakan seniman kelahiran Trad, Thailand pada 26 Juli 1957. Ia mendapatkan gelar Master of Fine Arts dalam bidang Seni Grafis (printmaking) dari Silpakorn University, Bangkok pada tahun 1986. Saat ini ia tinggal dan bekerja di Chiang Mai, Thailand. Pada tahun 2005, karyanya terpilih mewakili Thailand untuk Venice Biennale ke-51. Araya juga berpartisipasi dalam Gwangju Biennale dan Taipei Biennale.

Bersama dengan video seniman-seniman lainnya seperti Vito Acconci, Melati Suryodarmo, Joan Jonas, dll., The Class merupakan karya Araya dalam OK. Video FLESH dengan tema [in]corporeal. Pameran ini berupaya memperlihatkan sample pendekatan artistik dalam seni performans yang dilakukan dengan video. Disini terlihat bagaimana eksplorasi seniman-seniman dalam pameran ini tidak hanya dibatasi oleh sifat-sifat fisikal dan non fisikal tubuh, tapi juga berbagai kelebihan dan keterbatasan yang ada dalam teknologi video.

– Asep Topan, 14 Oktober 2011

(Source: )


Text

Oct 10, 2011
@ 3:57 pm
Permalink

Membaca Karya Sebastian Diaz Morales: Ring (The Means of Illusion)

Ring (The Means of Illusion), (2006/2007)

Pada OK. Video FLESH 2011, Sebastian Diaz Morales menampilkan karya video instalasi berjudul Ring (The Means of Illusion). Karya ini merupakan salah satu karya yang mampu mencuri banyak perhatian pengunjung pada gelaran OK.Video FLESH. Selain letaknya di gedung utama Galeri Nasional Indonesia, Ring (The Means of Illusion) juga terdiri dari empat buah saluran proyektor, sehingga membutuhkan tempat yang sangat luas. Karya ini buat antara tahun 2006 sampai 2007, dimulai dengan memperlihatkan kedua mata senimannya dan melakukan beberapa kali kedipan. Setelah itu gambaran yang tampak ialah sebuah lanskap gurun, memberikan kesan tenang, dilanjutkan dengan adegan orang bermain tinju di atas ring yang memberikan kesan sebaliknya. Selain itu, video dengan durasi 12 menit ini menampilkan rekaman orang-orang berdemonstrasi.

Melalui Ring (The Means of Illusion), Sebastian Diaz Morales menampilkan bahwa kekerasan dewasa ini dipentaskan sebagai sebuah tontonan, seperti pada pertandingan tinju dan kumpulan demonstran. Sebastian mengubah materi video asli menjadi gambaran yang didominasi warna hitam dengan efek garis putih sebagai penanda bentuk. Efek garis ini juga terlihat dalam karya lain Sebastian seperti Lucharemos hasta anular la ley, (2005) . Dalam Ring (The Means of Illusion), Sebastian terlihat tidak menyuguhkan sebuah cerita, namun karya ini merupakan gabungan pembacaan visual dari sebuah kekerasan.

Lucharemos hasta anular la ley, (2005) 

Sebastian Diaz Morales ialah seniman kelahiran Comodoro Rivadavia, Argentina, pada tahun 1975. Saat ini aktif berkarya di Amsterdam, Belanda dan Comodoro Rivadavia, Argentina.

Sumber foto:  http://sebastiandiazmorales.net/sebastiandiazmorales.net/Ring.html

– Asep Topan, 11 Oktober 2011


Text

Oct 9, 2011
@ 11:12 am
Permalink

Video Screening with Meiro Koizumi

Meiro Koizumi, Portrait of the Young Samurai (2009)

Bertempat di Selasar Sunaryo Art Space, 8 Oktober 2011, seniman asal Jepang Meiro Koizumi mempresentasikan beberapa karya videonya sebagai bagian dari rangkaian Public Program OK. Video FLESH 2011. Dimulai jam 10 pagi dengan iringan gerimis kota Bandung, tidak kurang dari 40 orang menghadiri presentasi Meiro di Bale Handap Selasar Sunaryo Art Space bersama Agung Hujatnikajennong sebagai moderator.

Meiro menjelaskan karyanya mulai dari sumber ide, proses pembuatan hingga apa saja yang ingin ia sampaikan. Karya pertama yang ia jelaskan ialah The Chair, karya ini berdurasi 3 menit 36 detik, dibuat pada tahun 2000. Ia menjelaskan bahwa karya ini berawal ketika ia membuat sketsa dengan pensilnya, kemudian menghasilkan suara goresan pensil yang menjadi ide dasar penciptaan karya tersebut. Pada The Chair, Meiro melakukan performance dengan melakukan gerakan-gerakan orang menggambar menggunakan pensil diatas objek sebuah kursi. Suara pensil yang kerap terdengar ketika menggambar ia tiru dengan mulutnya dengan bantuan pengeras suara, sehingga menghasilkan suara goresan pensil yang ia inginkan. Meiro menyebutkan bahwa suara yang ia keluarkan sangat sentimental dan mampu menghasilkan emosi yang luar biasa. Bukan hanya padaThe Chair, kecenderungan Meiro bereksplorasi dengan elemen suara juga hadir dalam karyanya yang lain seperti Amazing Grace (2001) dan Untitled (2000).

Selain suara, terdapat beberapa karya Meiro yang lebih bereksplorasi pada aspek narasi.  Karya berjudul Mum (2003) merupakan contoh karya naratifnya, selain Portrait of the Young Samurai (2009). Pada karya Mum, Meiro melakukan performance dengan menghubungi ibunya melalui telepon selular di sebuah ruangan. Diiringi musik yang menimbulkan kesan dramatis, ia hanya mengatakan kepada ibunya mengenai keadaanya dirinya  yang sedang berada di medan perang. Suara letusan bom serta senjata api ia ciptakan dengan mulutnya sendiri, juga dengan bantuan pengeras suara. Namun pada Portrait of the Young Samurai,  Meiro menampilkan kesan lain dari sebuah narasi yang dramatis. Kesan ini terbentuk karena dalam karya video ini ia menampilkan proses pembuatan video secara keseluruhan sehingga membuat penonton tertawa melihat talentdalam video ini yang berulang kali mengatakan hal sama, beberapa kalimat terakhir untuk orang tuanya, sebelum ia berangkat ke medan perang sebagai kamikaze dengan semangat samurai.

Setelah melihat beberapa karya Meiro Koizumi, dapat dikatakan bahwa karya-karyanya merupakan gabungan antara video art dan performance art, atau biasa disebut sebagai karya video performance. Dengan kata lain, Meiro telah mengangkat bagaimana tubuh merespon teknologi pada setiap karyanya.

Presentasi Meiro diselingi dengan istirahat yang dilanjutkan dengan diskusi bersama peserta dan banyak  pertanyaan-pertanyaan bermunculan yang berkisar tentang proses kreatifnya. Selain public speech dan  screening karya-karya Meiro pada 8 Oktober 2011, OK Video Flesh dan Selasar Sunaryo juga menggelar workshop video making dengan peserta terbatas pada 9 Oktober 2011 dengan Meiro sebagai mentor.

Sumber foto: http://meirokoizumi.com/

– Asep Topan, 9 Oktober 2011