OK. Video FLESH 2011: Special Screening 25 Music Videos in Indonesia (2001-2011) & Music Concert

Malam ini, 13 November 2011 untuk pertama kalinya di Indonesia, beberapa karya video musik ditonton oleh lebih kurang 550 orang dalam ukuran layar besar, di Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dalam pengantar kuratorialnya, Indra Ameng menjelaskan bahwa ke-25 video musik terpilih ini merupakan hasil kurasi yang menitik beratkan pada video musik yang memiliki kekuatan visual independen sebagai kekuatan artistik, sehingga bukan hanya menjadi media promosi, tetapi lebih dari itu ialah sebagai “kolaborasi” dari sebuah kerja audiovisual.
Kehadiran video musik sebagai medium ekspresi artistik ini muncul pada awal tahun 2000-an dan menjadi fenomena tersendiri bagi kebudayaaan populer di Indonesia. Melihat perkembangan ini, pada tahun 2003 OK. Video mengadakan program penayangan video musik secara khusus dan workshop video musik pada awal penyelenggaraanya tersebut, dan dilanjutkan lagi pada program video musik dengan tema subversion di tahun 2005.
Video musik yang pertama kali diputar dalam special screening malam ini ialah “Selecta Pop – Club Eighties” karya Platon (2001), dilanjutkan dengan “Mendekati Surga – Koil” (Xonad / Cerahati, 2002), “Life Keeps On Turning” – Mocca (Lynda Irawaty, 2003), dst. Setelah sebelumnya Hightime Rebellion membuka pertunjukan di area balkon GBB, pemutaran ke-25 video musik ini juga diselingi oleh pertunjukan menarik band-band lainnya seperti White Shoes & The Couples Company, The Upstairs dan Sir Dandy. Salah satu yang paling mendapat perhatian penonton ialah pada pemutaran video musik ke-24. Bejudul “Jakarta Motor City – Sir Dandy” (Tandun, 2011), karena sebelum video musik ini diputar, Sir Dandy, musisi asal Bandung ini telah membawakan lagu tersebut di area balkon GBB yang mendapat banyak respon dari pengunjung dengan lirik-lirik satirnya tentang kota Jakarta. Video musik terakhir dalam special screening malam ini ialah “Ode Buat Kota – Bangkutaman” (Anggun Priambodo, 2010), memperlihatkan sisi lain dari kota Jakarta. Dalam video musik ini kita bisa melihat Jakarta seakan menjadi kota mati yang ditinggal oleh penduduknya. Jalanan kosong tanpa kendaraan, sesekali hanya terlihat beberapa orang dan anjing di jalanan. Dilanjutkan penampilan live mereka (Bangkutaman) dengan membawakan beberapa lagu yang diakhiri oleh lagu Ode Buat Kota sebagai akhir dari keseluruhan acara special screening ini.
Selain pemutaran khusus 25 video musik yang paling menginspirasi dari band dan musisi Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, acara malam ini juga menampilkan pertunjukan musik live bersama The Upstairs, Bangkutaman, White Shoes & Couples Company, serta di area balkon diisi oleh Sir Dandy dan Hightime Rebellion. Selain itu, terdapat Bazaar yang menawarkan produk-produk unik dan kreatif, ditambah artwork karya seniman-seniman kontemporer muda, antara lain dari Komunitas Pencinta Kertas (KPK), Gardu House (street art), ruru shop (ruangrupa artist initiative), Ika Vantiani (handmade artworks), Jakarta 32˚C (Komplotan Mahasiswa Jakarta), dan sebagainya. GIF Festival yang terdapat dalam pameran OK. Video di Galeri Nasional Indonesia beberapa saat lalu juga ambil bagian dalam acara ini, dipresentasikan tepat di depan pintu masuk GBB bersama video mapping karya Ricky Baybay Janitra, Chiefy Flickerscreen dan Abi Rama.
Berikut ialah keseluruhan karya video musik yang diputar dalam special screening kali ini beserta urutan penanyangannya:
01. Selecta Pop – Club Eighties
(2001 / Video oleh Platon)
02. Mendekati Surga – Koil
(2002 / Video oleh Xonad / Cerahati)
03. Life Keeps On Turning - Mocca
(2003 / Video oleh Lynda Irawaty)
04. Burn – Brisik
(2002 / Video oleh Ari Satria Darma)
05. Ode to A Scar – Anomicratrap
(2002 / Video oleh Satellite of Love)
06. Train Song – Lain
(2003 / Video oleh The Jadugar)
07. Modern Bob – The Upstairs
(2004 / Video oleh Syauqi Tuasikal)
08. Celaka – Kornchonk Chaos
(2004 / Video oleh Aswan Tantra)
09. Taste of Harmony – Homogenic
(2004 / Video oleh Cerahati)
10. A.S.T.U.R.O.B.O.T. – Goodnight Electric
(2005 / Video oleh Anggun Priambodo)
11. Eksploitasi – Teknoshit
(2002 / Video oleh Eddy Cahyono)
12. Lihat – Sore
(2005 / Video oleh Ramondo Gascarro dan Zeke Khaseli)
13. Lingkar Labirin – The Brandals
(2004 / Video oleh The Jadugar)
14. Serigala Militia – Seringai
(2006 / Video oleh Tromarama)
15. Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia Yang Ada Di Seluruh Dunia – Naif
(2005 / Video oleh The Jadugar)
16. Detektif Flamboyan – C’mon Lennon
(2004 / Video oleh Henry Foundation)
17. Absolute Beginner Terror – Teenage Death Star
(2007 / Video oleh Anggun Priambodo
18. Mighty Love – Zeke & The Popo
(2009 / Video oleh Bian Dwijo )
19. Menulis Lagu Cinta - Bite
(2010 / Video oleh Heytuta)
20. Banyak Asap Disana – Efek Rumah Kaca
(2009 / Video oleh Famosando)
21. Amerika – Armada Racun
(2011 / Video oleh Armada Racun, Hyde Project dan Batu&Gunting)
22. Wanderlust – Santa Monica
(2007 / Video oleh Dibyokusumo Hadipamenang)
23. Mesin Penenun Hujan – Frau
(2010 / Video oleh Nana Miyagi dan Dolly Rosseno)
24. Jakarta Motor City – Sir Dandy
(2011 / Video oleh Tandun)
25. Ode Buat Kota – Bangku Taman
(2010 / Video oleh Anggun Priambodo)
- Asep Topan, 2011.
Membaca Karya Sebastian Diaz Morales: Ring (The Means of Illusion)

Ring (The Means of Illusion), (2006/2007)
Pada OK. Video FLESH 2011, Sebastian Diaz Morales menampilkan karya video instalasi berjudul Ring (The Means of Illusion). Karya ini merupakan salah satu karya yang mampu mencuri banyak perhatian pengunjung pada gelaran OK.Video FLESH. Selain letaknya di gedung utama Galeri Nasional Indonesia, Ring (The Means of Illusion) juga terdiri dari empat buah saluran proyektor, sehingga membutuhkan tempat yang sangat luas. Karya ini buat antara tahun 2006 sampai 2007, dimulai dengan memperlihatkan kedua mata senimannya dan melakukan beberapa kali kedipan. Setelah itu gambaran yang tampak ialah sebuah lanskap gurun, memberikan kesan tenang, dilanjutkan dengan adegan orang bermain tinju di atas ring yang memberikan kesan sebaliknya. Selain itu, video dengan durasi 12 menit ini menampilkan rekaman orang-orang berdemonstrasi.
Melalui Ring (The Means of Illusion), Sebastian Diaz Morales menampilkan bahwa kekerasan dewasa ini dipentaskan sebagai sebuah tontonan, seperti pada pertandingan tinju dan kumpulan demonstran. Sebastian mengubah materi video asli menjadi gambaran yang didominasi warna hitam dengan efek garis putih sebagai penanda bentuk. Efek garis ini juga terlihat dalam karya lain Sebastian seperti Lucharemos hasta anular la ley, (2005) . Dalam Ring (The Means of Illusion), Sebastian terlihat tidak menyuguhkan sebuah cerita, namun karya ini merupakan gabungan pembacaan visual dari sebuah kekerasan.

Lucharemos hasta anular la ley, (2005)
Sebastian Diaz Morales ialah seniman kelahiran Comodoro Rivadavia, Argentina, pada tahun 1975. Saat ini aktif berkarya di Amsterdam, Belanda dan Comodoro Rivadavia, Argentina.
Sumber foto: http://sebastiandiazmorales.net/sebastiandiazmorales.net/Ring.html
– Asep Topan, 11 Oktober 2011
Vanilla Twilight, the best song of Owl city, can’t wait for All Things Bright and Beautiful :)
♪♫
And I’ll forget the world that I knew, but I swear I won’t forget you.
Oh if my voice could reach back through the past, I’d whisper in your ear:
Oh darling I wish you were here… :)
(Source: youtube.com)