Kau terpelajar, cobalah bersetia pada katahati.


Posts tagged visual art


Text

May 6, 2013
@ 2:22 am
Permalink
1 note

Dalam Proses

Proses merupakan runtunan perubahan dalam perkembangan sesuatu. Dalam konteks ini, seni grafis. Kata “proses” dalam tajuk pameran ini bisa dimaknai sebagai dua hal: pertama, menjelaskan mengenai seni grafis secara luas sejak teknik cetak pada bidang dwimatra ini ditemukan. Sebagai cabang seni yang sangat erat kaitannya dengan teknologi cetak, seni grafis merupakan satu cabang seni rupa yang sulit dirumuskan secara umum. Tentu hal itu  disebabkan oleh perkembangan teknologi cetak, yang membuat seni grafis pun terus berubah dan karena itu setiap definisi atas dirinya akan terus, dan sudah seharusnya, berkembang pula.

 Kenyataan ini mengerucutkan kesimpulan bahwa seni grafis merupakan salah satu seni yang sangat elastis sejak awal perkembangannya. Mudah berubah bentuknya, dan mudah kembali ke bentuk asal. Kita ambil contoh, pada abad kedua sebelum masehi di Cina, seni grafis atau printmaking mungkin hanya dikenal dengan jenis teknik cetak tinggi. Ketika pada 1798, teknik cetak datar litografi ditemukan oleh Alois Senefelder, pengertian seni grafis pun berkembang. Begitu seterusnya, ketika penemuan baru dengan teknik cetak dalam dan cetak saring ditemukan, semakin berkembang pula pengertian seni grafis yang kita kenal sekarang ini. Dalam perkembangan terakhir, cabang seni rupa ini mampu memberikan pengaruh pada awal perkembangan seni media baru.

Perkembangan pengertian tentang seni grafis memiliki ketegangannya masing-masing di setiap masa. Dalam dunia seni grafis mutakhir, khususnya di Indonesia, terminologi konvensi seni grafis menjadi wacana yang tak jarang diperbincangkan. Istilah konvensi ini sangat merujuk pada pengertian teknik cetak manual yang terdiri dari empat bagian utama: cetak tinggi, cetak dalam, cetak datar, dan cetak saring. Pengertian konvensi di tanah air pun, tak serta-merta merujuk pada tradisi dunia “Barat”, namun disesuaikan dengan konteks Indonesia mengenai material cetak, bahkan pola kerja. Jika merujuk pada hal tersebut, tentu saja hal ini berseberangan dengan elastisitas seni grafis, seolah menutup kemungkinan baru yang bisa terjadi, yang disebabkan oleh perkembangan teknologi cetak itu sendiri.

Kedua, adalah makna “proses” yang lebih merujuk pada pola kerja seni grafis itu sendiri. Umumnya, sebuah karya seni diperlihatkan sebagai sebuah hasil akhir. Namun tak jarang, sebuah proses sangatlah penting untuk diperhatikan. Dalam seni grafis, proses kerja memiliki peranan yang sangat vital karena sangat berkaitan dengan alat cetak yang tak sedikit jumlahnya. Dalam beberapa teknik, seperti cetak dalam dan cetak datar, mesin yang digunakan sangat terbatas, bahkan keberadaanya di Indonesia masih bisa dihitung dengan jari. Tentu saja, wacana penting dalam teknik cetak ini ialah kemampuannya untuk melipatgandakan, yang sudah seharusnya dilihat sebagai kelebihan seni grafis, sekalipun tak sedikit yang menganggapnya sebagai sebuah kekurangan.

Seni grafis pada mulanya tak masuk dalam kategori fine art. Sejarah memaparkan kegiatan mencetak pada bidang dwimatra ini awalnya digunakan sebagai medium ilustrasi, distribusi kitab suci, atau propaganda politik. Tentu, dalam hal ini sifat reproduktifitas seni grafis menjadi sebuah kelebihan. Masuknya teknik cetak ini sebagai bagian dari fine art (dalam istilah “Barat”: dari printmaking menjadi fine art printmaking) menimbulkan isu baru dikarenakan sifatnya yang bisa digandakan. Masih banyak kalangan yang belum bisa memahami konsep orisinalitas dalam karya seni grafis—bahwa setiap karya seni grafis yang dicantumi tanda tangan dan edisi oleh seniman adalah karya orisinal. Hal ini tentu tak lepas dari kenyataan bahwa seni grafis kemudian berada sejajar dengan karya-karya fine art lainnya semisal drawing dan lukisan, yang tidak memiliki kemampuan penggandaan seperti seni grafis. Kerap kali dalam hal ini, kemampuan penggandaan tersebut dianggap sebagai sebuah kekurangan. Sebagai sesuatu yang inklusif, tak beraura.

Dalam pameran “PRINT: PROCESS” ini, para perupa mengkritisi isu orisinalitas dalam sebuah karya fine art, dengan menjadikannya strategi artistik yang lain pada setiap karyanya. Cara pandang mereka dalam menilai kemampuan penggandaan seni grafis sebagai kelebihan merupakan optimisme, yang menjauhkan sikap pragmatis dari masing-masing pegrafis. Lebih dari itu, teknik seni grafis yang beragam memungkinkan mereka membuat karya tidak hanya dalam satu gaya visual. Setiap teknik memiliki kesan yang berbeda dengan teknik lainnya.

Lima perupa muda diundang untuk mempresentasikan karya mereka pada pameran kali ini. Tiga di antaranya merupakan komunitas yang intens berkarya dengan teknik seni grafis: Taring Babi, Grafis Huru Hara, dan Refreshink Printmaking. Sementara itu, Putri Ayu Lestari bersama Syaiful Ardianto hadir sebagai seniman individu dalam pameran ini. 

Sifat demokratis dalam karya seni grafis dan budaya cetak pada umumnya, menjadikan kegiatan cetak-mencetak begitu dekat dengan masyarakat. Ini yang diperlihatkan oleh karya-karya Syaiful Ardianto. Berupa rangkaian found image gambar togel dan tafsir mimpi yang ia pilih berdasarkan relasinya dengan kegiatan cetak di masyarakat, yang kemudian dicetak ulang dalam ukuran dan teknik presentasi yang lain, dengan menggunakan teknik cetak saring di atas kertas. 

Selain dekat dengan masyarakat, karya seni grafis berperan penting dalam pembentukan budaya populer di masyarakat. Hal ini ditangkap oleh komunitas seni grafis Refreshink Printmaking sebagai gagasan awal karya mereka. Beberapa produk kemasan yang sering ditemukan dalam hidup masyarakat—yang awalnya sama sekali tak bisa dijual-belikan, seperti cinta dan agama—mereka tampilkan dalam bentuk lain. Menggunakan teknik cetak saring, mereka merespon fenomena komodifikasi yang sudah menjadi rahasia umum ini, dengan menggambarkan kembali produk-produk yang dengan mudahnya bisa diperjualbelikan.

Sementara itu, Komunitas Taring Babi lebih menekankan pada pemanfaatan medium cetak seni grafis sebagai alat propaganda mereka dalam merespon isu sosial-politik yang terjadi dewasa ini. Komunitas ini bergerak seiring dengan perlawanan mereka terhadap kemapanan yang juga mereka lakukan dalam jalur yang lain, yaitu melalui musik punk rock. Pemilihan teknik cetak tinggi cukil kayu memberikan kesan tegas dan keras, memperkuat kesan pada isu yang mereka angkat. 

Isu kekerasan dan tabiat buruk manusia, adalah tema yang diangkat oleh Putri Ayu Lestari dalam karya cetak dalam dengan teknik drypoint. Karya drypoint memiliki karakter garis yang lebih kasar jika dibandingkan dengan teknik cetak dalam lainnya, yaitu etsa. Sisa retakan pada pelat yang digores langsung oleh jarum besi memungkinkan tinta yang dicetak masuk ke dalam sela-sela retakan itu, membuat garis yang dihasilkan terkesan lebih kasar. Dengan teknik presentasi sedemikian rupa, narasi mengenai kekerasan menjadi lebih kuat ia sampaikan melalui karya grafisnya.

Selain itu, sekumpulan pegrafis muda dari Universitas Negeri Jakarta bernama Grafis Huru Hara, memanfaatkan jumlah anggotanya yang banyak untuk membuat sebuah kumpulan karya grafis dengan berbagai teknik dalam bentuk buku. Masing-masing karya dicetak terbatas. Sebagian disatukan dalam bentuk buku, sebagian edisi lainnya dipresentasikan dalam ruang galeri dengan membentuk sebuah kalimat populer yang menjadi jargon isu keberagaman dan toleransi di Indonesia: Berbeda dan Merdeka 100%.

Seni grafis bukan hanya menghasilkan karya yang lebih demokratis. Banyaknya perupa yang bekerja atas nama komunitas, juga semakin menggantikan status seniman sebagai otoritas tunggal terhadap karya seni. Dan dengan sikap optimis, setiap ragam teknik cetak seni grafis serta prosesnya yang rumit itu, bisa dimanfaatkan menjadi sebuah proses yang memungkinkan para perupa untuk terus bergerak mencari kemungkinan baru dalam kegiatan artistik mereka.

Asep Topan

Kurator untuk pameran seni grafis “PRINT: PROCESS”

RURU Gallery, Jakarta, 2013


image


Text

Apr 10, 2013
@ 1:34 am
Permalink

Menggambar Drawing

Akan sangat membosankan ketika kita berurusan dengan peristilahan. Namun, akan sangat aneh jika kita tak mengetahuinya, apalagi itu erat kaitannya dengan dunia kita seni rupa. Seperti dua istilah yang gampang-gampang susah dicari perbedaanya ini: lukisan dan drawing. Sebagian besar dari kita dapat dengan mudah mengetahui apakah suatu karya digolongkan sebagai lukisan atau drawing, tentu saja. Akan tetapi jika kita sedikit lebih kritis utamanya kepada diri sendiri, tentulah pertanyaan ini sempat mengganggu, apa yang membedakan sebuah karya lukisan dan drawing?

Salah satu persamaannya ialah keduanya berada dalam lingkup karya dwimatra. Ketika kita mengajukan pertanyaan mengenai perbedaaanya, jawaban yang didapat pasti akan beragam. Mungkin kita akan menjawab jika drawing ialah karya yang dibuat dengan menggunakan pensil, charcoal, pulpen, dll. di atas kertas. Sedangkan lukisan ialah karya yang dibuat menggunakan medium cat minyak atau cat akrilik di atas kanvas. Apakah sesederhana itu? Ternyata tidak. Bagaimana jika kita balikkan keadaannya, kita menggunakan medium pensil di atas kanvas. Sedangkan cat minyak tadi kita torehkan di atas kertas. Menjadi lain lagi permasalahannya.

Beberapa pendapat lain mengungkapkan jika karya drawing bersifat kering sedangkan lukisan bersifat basah, jika dilihat dari materialnya. Mungkin opini kedua ini lebih gampang kita terima, meskipun definisi ini masih berada di kisaran teknis. Pandangan lain justru saya dapatkan dari salah satu pengajar di Fakultas Seni Rupa IKJ sendiri. Kurang lebih empat tahun lalu pertanyaan “apa bedanya drawing dan lukisan” ini saya tanyakan kepada almarhum Aditya Tobing selepas kelas Kritik Seni waktu itu. Dari pertanyaan itu yang saya dapatkan sama sekali bukan perihal teknis. Dalam bahasa saya sendiri, lebih kurang seperti ini jawaban yang saya dapatkan: sebuah lukisan memiliki daya dan impresi yang lebih kuat dari drawing. Sesuatu yang tak menyentuh hal teknis seperti sebelumnya saya sebutkan, tapi justru akan sangat subyektif dan relatif ketika kita menilai dengan pengertian itu. Jika kita meluangkan sedikit waktu ke perpustakaan, maka kita akan menemui bahwa di waktu yang lampau Sanento Yuliman pernah membahas peristilahan gambar dan lukisan ini dalam Dua Seni Rupa-nya. Meskipun tak menjelaskan secara definitif, namun referensi ini saya pikir penting dan masih relevan dengan dunia seni rupa saat ini.

Sebenarnya, mengapa pula kita memakai istilah drawing ini dalam mendefinisikan karya-karya yang dipamerkan ini? Ternyata dalam bahasa Indonesia pun belum ada padanan kata yang bisa mewakilinya sebagai salah satu jenis karya seni visual. Secara harfiah, “drawing” berarti “gambar” dalam bahasa Indonesia. Namun, kita tak bisa menggunakan kata “gambar” ini sebagai kata “drawing” dalam bahasa Indonesia. Tentu karena kata “gambar” memiliki arti yang sangat luas. Apa yang kita lihat di televisi bisa kita sebut “gambar”, komik, sketsa, foto, bahkan dalam kesusatraan lama, patung pun disebut “gambar”. Maka, kata “drawing” pun lazim digunakan hingga kini sebagai sebuah definisi dari jenis karya dwimatra. Agak sedikit riskan jika kita tergesa-gesa mencari padanan kata yang tepat, dan kekeliruan bisa saja terjadi seperti ini: menerjemahkan pritmaking sebagai seni grafis! Dua hal yang jika kita telaah lebih jauh memiliki makna yang sama sekali lain.

Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda dalam mendefinisikan yang mana drawing dan yang mana lukisan atau bukan drawing. Fakta inilah yang saya pikir menjadi pemicu diselenggarakannya pameran ini. Setiap perupa dibebaskan menampilkan apa yang mereka yakini sebagai karya drawing. Oleh karena itu, akan sangat tidak adil jika saya menyampaikan subyektifitas saya mengenai ‘yang drawing’ dan ‘yang bukan drawing’ ini dalam tulisan pengantar ini.

Mari kita sampingkan sejenak mengenai peran institusi dalam mengahdirkan keragu-raguan dalam diri para pelajarnya ketika harus mebedakan yang mana karya drawing atau bukan. Mereka dengan berani mencari sendiri jawaban atas pertanyaan itu dengan sebuah karya nyata dalam pameran ini. Selanjutnya, akan kita lihat bagaimana para perupa muda ini mendefinisikan drawing tersebut melalui karya-karya mereka. Akan ada perbedaan pendapat dalam mendefinisikannya, dan seharusnya seperti itu. Kemudian yang diharapkan tentulah kritik terhadap sesama perupa akan muncul, meskipun hanya lewat obrolan dan gurauan di sudut-sudut studio. Tentu akan lebih baik jika ada yang menyampaikannya melalui tulisan. Karena setiap karya merupakan pemikiran yang tergambarkan, oleh karenanya saya pikir budaya membaca karya sudah selayaknya kita mulai dari lingkungan terdekat kita, dari teman-teman sendiri.

Apresiasi setinggi-tingginya saya sampaikan kepada semua perupa yang menampilkan karya-karyanya pada pameran ini. Mereka yang menjawab pertanyaan mengenai definisi drawing tersebut dengan karya. Tak ada jawaban yang akan lebih tepat selain sebuah karya. Karena definisi itu sendiri lahir setelah karya, bukan sebaliknya. Drawing atau bukan? Semoga kita menemukan jawabannya dalam pameran ini.

Asep Topan, April 2013.

Teks ini merupakan tulisan pengantar untuk pameran “Drawing?” di Lorong Cinta ArtSpace, Seni Murni, FSR IKJ. 9 - 15 April 2013.


Text

Nov 19, 2012
@ 9:07 am
Permalink
1 note

Ketika Diri Sendiri Dipertanyakan

Identitas, sebuah kata yang saya pikir tepat untuk melihat isu besar yang diangkat oleh Saleh Husein dalam pameran tunggal pertamanya ini. Sebuah hasil dari pencarian asal-usul keluarganya yang berlatar belakang etnis Arab. Saleh yang dilahirkan di Jeddah pada 1982 dari keturunan Arab-Jawa, menempuh pendidikan akademisnya di jurusan seni lukis Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Sebagai seniman, ia banyak terlibat dalam berbagai perhelatan seni rupa, seperti padaJakarta Biennale XIII 2009: ARENA di Jakarta, serta Occupying Space: ASEAN Performance Art Event  di Galeri Nasional Indonesia; selain juga dikenal sebagai salah satu gitaris grup musik White Shoes and The Couples Company serta The Adams. Pameran dengan tajuk Riwayat Saudagar ini terselenggara mulai 20 Oktober hingga 2 November 2012, di RURU Gallery. Saleh bukanlah seniman sekaligus musisi pertama yang berpameran tunggal di sini. Sebelumnya, terdapat beberapa nama yang pernah menghelat karya-karya visualnya di RURU Gallery: Jimi Multahzam pada pameran JIMI! JIMI!, Aprilia Apsari dengan Rayuan Pulau Kelapa serta pameran tunggal Henry Foundation yang bertajuk Copy Paste.

Pada pameran ini, pengunjung sangat dimudahkan dengan tata letak pameran yang sangat baik. Saleh tidak menampilkan karya yang terlalu banyak, tidak ada instalasi berlebihan. Semua tertata rapih, bukan hanya mempertimbangkan keseimbangan antara satu karya dan lainnya: ia mempertimbangkan vista, kenyamanan pengunjung dalam melihat karya. Dalam Seri karya Spread,dibutuhkan sekurang-kurangnya jarak 4 meter untuk melihat karya ini dengan nyaman. Karakter goresan charcoal  yang kasar akan menjadi lebih halus, terkaburkan oleh jarak. Ini penting, setidaknya ketika retina mata kita menangkap karakter wajah pengantin wanita yang halus. Karya ini menampilkan potret pernikahan dirinya, saudara serta kerabat. Menggambarkan pencampuran etnis Arab dengan pribumi melalui pernikahan. Begitu pun pada seri Identification 1-10 yang berukuran lebih keciljarak yang dibutuhkan pun lebih dekat. Selain itu, Ale menggambarkan lebih rinci dengan latar belakang pada hampir setiap karya kanvas bulat berdiameter 20 cm itu. Inilah juga yang menjadi pembeda karya ini dengan karya-karya lainnya yang tidak memiliki latar: berupa figur, dengan rekaman ruang tak tentu. Identification, digambarkan dengan pelbagai citraan dari benda seperti lampu, tenda, tubuh serta lanskap. Setiap karya tidak berdiri sendiri, sangat terlihat ada kesan bahwa Saleh ingin memperlihatkan proses. Ada awal, ada akhir. Idealnya, karya ini dapat dilihat berurutan dari kanvas paling kiri. Ini merupakan cerminan tradisi membaca di Indonesia yang bermula dari arah kiri, ke kanan. Tentu beda jika kita membandingkan dengan tradisi membaca tulisan Arab, misalnya. Tentu saja sangat penting, karena ini akan mempengaruhi interpretasi apresiator. Lain hal jika setiap karya pada seri ini memang berdiri sendiri, tidak berupa cerita yang saling berkaitan satu dan lainnya.

Pada seri Journey yang berjumlah empat karya, Ale menampilkan gambaran dari kapal uap pengangkut imigran dari Arab menuju Indonesia, seperti yang diriwayatkan dalam pameran ini. Empat lukisan fotografis, dengan penyuntingan sederhana yang menampilkan tumpukan-tumpukan warna datar –hampir tanpa gradasi– membentuk keempat kapal tersebut di atas lautan. Warna lebih gelap digunakan untuk melukiskan kapal uap yang menjadi obyek utama pada seri ini. Pertanyaannya ialah, kenapa harus dibuat empat karya yang hampir mirip? Hanya letak horison dan sudut pandang penggambaran serta warna yang menjadi pembeda. Itu pun tidak menguatkkan definisi journey seperti yang tertera pada judulnya. Ada baiknya jika kita melihat karya ini secara keseluruhan, keempatnya sekaligus. Mungkin, kita tidak akan mendapatkan keterangan yang jelas apalagi rinci mengenai perjalanan yang Saleh maksudkan, akan tetapi dari sini terlihat jelas: kekuatan karya ini terletak pada komposisi dan paduan warna halus yang memanjakan mata kita, enak dilihat. Maksud saya, pada karya ini pertimbangan estetis terasa lebih dominan dbandingkan pertimbangan konseptual, ketika si seniman memproduksi karya ini.

Pada Genetic Marker, Saleh menggambarkan genealogi atu garis keturunan ia dan keluarganya. Pohon keluarga digambarkan melalui instalasi sederhana pada salah satu bagian tembok RURU gallery, berujung pada sebuah nama bertuliskan Muhammad. Saleh sedikit mengecoh pemahaman kita yang, jika dengan cepat berkesimpulan akan menyangka bahwa ia merupakan keturunan Nabi Muhammad. Perhatikan satu-demi satu nama yang tertera dalam genealogi tersebut, maka kita akan menemukan kejanggalan: Saleh menuliskan nama wanita dalam genealogi tersebut. Padahal seperti yang ia ungkapkan, penulisan nama seorang perempuan pada garis keturunan etnis Arab tidak diperbolehkan. Saleh tidak mengindahkannya. Ini secara tidak langsung merupakan kritik halus terhadap budaya patriarki yang kita lihat di sana. Sekaligus memperlihatkan paradoks ketika semakin marak orang mengaku keturunan Nabi Muhammad, padahal sejatinya Nabi Muhammad sendiri tidak memiliki seorang anak laki-laki. Bukankah itu berarti keturunannya telah selesai?

***

Tidak ada eksplorasi medium yang mengejutkan dalam pameran ini. Keterampilan menggambar senimannya sangat terlihat pada guratan charcoal, akrilik di atas kanvas serta mural di tembok dan lantai galeri yang menggambarkan peta jalur yang dilewati leluhur Saleh sebelum ke Indonesia: Arab – India – Indonesia. Foto-foto dihadirkan sebagai rekaman memori masa lalu, bagi diri sendiri, serta leluhurnya. Sesuatu yang wajar saya pikir, karena pameran berbasis riset ini terlahir dari tumpukan data yang kemudian diwujudkan menjadi sebuah karya bahkan pameran. Pilihan-pilihan teknis yang dihadirkan berdasarkan kebutuhan senimannya dalam mengolah data hasil riset tersebut. Sebuah karya video berjudul Brief History diletakan di pojok ruangan yang lebih gamblang dalam menjelaskan Saleh dan leluhurnya. Ada kejanggalan di sini, ketika semua yang kita lihat dalam video tersebut menjelaskan semuanya. Sekalipun tidak melihat karya-karya Saleh yang lainnya, kita bisa dengan mudah mengetahui apa yang ia ceritakan dengan karyanya. Interpretasi yang dibangun oleh pikiran kita terhadap karya-karya lain (selain video tersebut) mulai terusik. Meskipun tidak seutuhnya, tentu saja.

Pencarian identitas dan menampilkannya ke dalam karya seni, bukan pertama kalinya terjadi di ranah seni rupa Indonesia. Hal ini bermula dari pertanyaan sederhana tentang siapa sebenarnya kita, dari mana asal kita dan mengapa kita berada di sini. Sebelumnya, FX Harsono persis melakukannya dengan sebuah pameran bertajuk The Erased Time pada penghujung 2009 lalu, di galeri Nasional Indonesia. Kesamaan dalam penyelenggaraan pameran seperti ini ialah: semua karya yang ditampilkan bukan hanya menampilkan keterampilan artistik sang seniman, mereka juga mengharuskan diri melakukan riset sebelum karya-karyanya dibuat. Permasalahan yang diangkat begitu personal, menyangkut sejarah dan budaya tentunya. Saleh menempatkan ia sendiri dan identitasnya sebagai subjek utama dalam pameran ini. Akan tetapi tidak berarti karya-karyanya bersifat subyektif, justru sebaliknya, dengan riset yang ia lakukan pameran ini menarik kita pada pemahaman yang lebih luas. Bukan hanya mengenai sejarah sebuah etnis, klan atau seorang Saleh Husein, pameran ini memperlihatkan kita bagaimana negara ini terbentuk dari sebuah keberagaman. Pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan, merangsang kita mencari tahu lebih banyak perihal kehidupan sosial masyarakat Indonesia sebelumnya. Melalui Riwayat Saudagar ini, pesan penting dari Saleh Husein sangat jelas, sebelum mencari tahu mengenai sejarah dunia atau orang lain, akan lebih baik jika kita mengetahui sejarah diri kita sendiri. Itulah yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan “sederhana” di atas: siapa sebenarnya kita, dari mana asal kita serta mengapa kita berada di sini? Dan Saleh memaksa kita menanyakannya juga pada diri kita sendiri.

- Asep Topan, Nopember 2012

Sumber foto: Dokumentasi ruangrupa



Text

Aug 26, 2012
@ 12:25 pm
Permalink

Sketsa dan Sebuah Kesalahan

Membuat sketsa saya asumsikan sebagai kegiatan paling sederhana dalam menciptakan sebuah karya seni rupa. Sebuah lukisan, patung, grafis, instalasi, atau karya seni rupa apa pun, biasanya diawali dengan pembuatan sketsa terlebih dahulu, meskipun tentu saja tidak semuanya. Sketsa juga bisa dikatakan sebagai langkah awal sebelum membuat sebuah drawing. Agak rancu memang, jika kita harus menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia: drawing akan berarti juga gambar atau menggambar. Namun, tidak sesederhana itu. Gambar dalam pengertian bahasa Indonesia bisa berarti sangat luas sekali, sedangkan drawing yang dimaksud merujuk pada salah satu jenis karya seni rupa dwi matra. Apa yang kita lihat dalam buku meskipun itu hasil foto, bisa kita sebut gambar. Siaran televisi, bisa juga kita sebut sebagai gambar. Namun dalam pengertian dalam bahasa Inggris, kata drawing sendiri –merujuk pada New Oxford American Dictionary– ditaksiskan (didefinisikan) seperti ini: a picture or diagram made with a pencil, pen, or crayon rather than paint, esp. one drawn in monochrome. Jadi jelas, pengertian gambar dalam bahasa Indonesia, mempunyai lingkup lebih jauh dari kata drawing. Jauh sebelum ini, Sanento Yuliman telah lebih dulu membahas peristilahan gambar ini secara etimologis yang diantaranya berasal dari bahasa Kawi, bahkan Sansekerta.

Sketsa dan drawing –sekali lagi, dan seterusnya, dalam artian sebuah jenis karya seni rupa dwi matra– memiliki berbagai macam alat yang bisa digunakan untuk menghasilkan gambar yang akan kita buat. Material itu sering kali digunakan berdasarkan objek yang akan digambar seperti pensil, pulpen, tinta, arang (charhoal), pensil warna, sanguine, dsb.

Foto: Drawing yang saya buat dengan media pensil di atas kertas, bertempat di sekitar stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Jika kita ingin membuat gambar dengan kekuatan visual pada arsiran, bisa digunakan pensil sebagai medianya. Tinta (ink) bisa menghasilkan drawing dengan intensitas kepekatan yang beragam dengan pengaturan kandungan air yang digunakan. Sanguine atau kapur merah merupakan media drawing yang telah ada cukup lama (ketika kapur putih hanya bisa digunakan pada kertas berwarna), dengan menorehkan gambar negatif, sehingga yang dipenuhi adalah gambar pada bagian latar. Sanguin ini berwarna merah tua dan Leonardo Da Vinci ialah contoh seniman yang sering menggunakan media ini. Sanguine sendiri kerap digunakan dalam menggambar objek yang membutuhkan tampilan rinci dari kedalaman sebuah bentuk, biasanya untuk menggambar model dan daging manusia. Lain halnya jika kita ingin menghasilkan drawing dengan dominasi garis-garis, pulpen dan drawing pen merupakan media paling cocok untuk yang satu ini.

Beberapa bulan lalu, saya bersama beberapa teman seniman muda berbahaya asal Jakarta mengadakan sebuah kegiatan menggambar bersama yang kita namai Sketch Days. Kita melaksanakan kegiatan ini di lingkungan Taman Ismail Marzuki Jakarta, tepatnya di depan gedung bernama Grand Theater. Sampai saat ini, kegiatan menggambar atau membuat sketsa ini telah dilakukan sebanyak dua kali. Pada beberapa gambar-gambar awal, saya kerap menggunakan media drawing pen. Media ini membutuhkan ketelitian yang lebih jika dibandingkan dengan pensil, yang sebelumnya sering saya gunakan sebagai media menggambar. Namun saat ini, justru saya lebih tertarik menggunakan media pena atau pulpen untuk membuat gambar dan sketsa sehari-hari.

Foto: Beberapa peserta Sketch Days hari pertama.

Tentu saja ada pertimbangan khusus mengapa media-media tersebut digunakan, semuanya memiliki karakteristik masing-masing. Untuk pensil, seperti yang telah saya singgung di atas, media ini memiliki kekuatan pada arsiran, bisa lebih halus dan pekat sesuai dengan intensitas penekanan dan seri pensil yang beragam seperti HB, B, 2B, 3B, 4B, dll. Namun, dalam menggunakan pensil biasanya saya kerap ceroboh dalam menggoreskan garis, karena dengan sadar saya mengetahui bahwa garis-garis yang kita hasilkan bisa dihapus kembali.

Kemudian saya mencoba menekuni media drawing pen. Pada media ini, kepekatan tinta yang dihasilkan ialah sama, yang membedakannya adalah ukuran ketebalan garis yang dihasilkan. Dengan garis terkecil berukuran 0.1, tinta yang telah digoreskan tidak bisa dihapus, sehingga membutuhkan ketelitian dalam menorehkannya. Karena kepekatan tinta yang sama, gambar yang dihasilkan cenderung terlihat datar, meskipun arsiran garis dilakukan dengan baik untuk mencoba menghasilkan kedalaman. Model gambar seperti ini sama dengan apa yang kita lihat pada karya etsa dengan hanya satu kali proses perendaman matrix dalam cairan kimia. Oleh karena itu, dibutuhkan proses perendaman yang berulang-ulang untuk menghasilkan kepekatan yang beragam dalam sebuah karya etsa, dan teknik cetak dalam (intaglio) pada umumnya.

Media terakhir dan saat ini sedang saya tekuni ialah menggambar dengan menggunakan pulpen atau ballpoint. Awalnya, saya terinspirasi menggambar dengan media ini setelah melihat sebuah pameran di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, bertajuk “Lihat Disana”. Dalam pameran itu, ditampilkan karya-karya dari Aris Prabawa dan Budi Santoso. Karya-karya Aris Prabawa yang di awal saya maksud memberikan inspirasi dalam menggunakan media pulpen ini. Ia banyak sekali menampilkan karya dengan media pulpen di atas kertas dalam pameran ini. Semua karyanya harus saya akui memang luar biasa, bukan hanya dari gagasan yang ia tampilkan, namun juga eksekusi teknis yang sangat baik. Apresiator bukan hanya akan terpesona dengan simbol-simbol yang ia gunakan, metafor yang ia pakai serta keberanian ia mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan pihak militer. Lebih dari itu, penguasaan teknik yang maksimal membuat karyanya juga terlihat luar biasa jika kita lihat dalam sudut pandang seni rupa yang lebih mendasar. Kita dapat melihat bagaimana ia, dengan pulpen bertinta hitam, mampu menghadirkan kedalaman yang baik, kehalusan bulu-bulu cendrawasih terlihat nyata. Dan pada karya berjudul Ruwet Kepala, percikan peluru yang diarahkan ke tanah, lengkap dengan debu yang dihasilkannya, merupakan bagian terbaik dari semua goresannya, semuanya terlihat nyata. Unsur-unsur seni rupa yang ia tampikan seperti garis, bidang, irama serta bentuk berhasil memperkuat gagasan dan konsep karya-karya yang ia tampilkan. Kembali pada persoalan awal, menggambar dengan pulpen layaknya seperti menggambar dengan drawing pen: sama-sama tidak bisa dihapus lagi. Yang menjadi pembedanya ialah, dengan penekanan yang tepat, menggambar menggunakan pulpen akan menghasilkan kepekatan tinta yang beragam, meskipun tidah terlalu mencolok perbedaannya. Menggunakan pulpen seolah semuanya dikendalikan oleh tangan kita, karena tidak ada ukuran garis yang pasti seperti pada drawing pen, maka kita harus berulang kali menggores untuk menghasilkan garis yang lebih besar. Namun, kita bisa mengatur kepekatan yang dihasilkan dengan tekanan tangan kita.

Jika sedikit berandai-andai dengan pengertian yang sok filosofis dan tergesa-gesa, menggambar menggunakan pulpen seolah mengajarkan kita bahwa apa yang telah kita lakukan akan tetap membekas (tidak dapat dihapus), namun kita bisa menimpa kembali garis-garis yang salah itu, dengan garis yang baru yang lebih sempurna sesuai kehendak dan tujuan (bentuk) yang akan kita capai. Sesuatu yang salah adalah ketika kita mengulangi kesalahan itu. Bila kita melakukan kesalahan untuk pertama kalinya, saya pikir lebih adil jika kita sebut itu sebagai sebuah proses belajar dari kesalahan.

– Asep Topan, 26 Agustus 2012.


Text

May 9, 2012
@ 9:43 am
Permalink
1 note

Seni Grafis Yang Demokratis

Seorang ibu membawa anak dalam pangkuan tangan kanannya, sedangkan tangannya yang lain memegang tangan anak lainnya. Ibu itu menuju sebuah gerbang. Tepat di depan gerbang, belasan orang berkumpul, ada yang mengacungkan tangan, mebawa batu. Sebagian lagi menggenggam jeruji pagar tepat di depannya. Itulah sedikit gambaran mengenai karya Käthe Kollwitz dengan judul Storming the Gates, dibuat dengan teknik intaglio pada tahun 1897. Karya ini merupakan salah satu dari beberapa karya-karya klasik seniman grafis koleksi sang kurator, Tony Godfrey, dalam pameran seni grafis bertajuk Here and There, Now and Then yang terselenggara di Langgeng Art Foundation Yogyakarta, 15 Maret – 15 April 2012 silam.  Karya-karya old master prints –dalam kalimat Godfrey– seperti Los Chinchillas, seri ke 50 dari karya berseri Francisco Goya yang sangat termasyur, Los Caprichos [1] ditampikan dalam pameran ini beserta karya-karya dari perupa Yogyakarta. Serta seniman di luar kota ini seperti Tisna Sanjaya –karena komitmennya yang kuat kepada Seni Grafis– serta FX Harsono dan Tintin Wulia yang meskipun tidak berdomisili di Yogyakarta, tetapi secara reguler selalu mengunjungi kota ini FX Harsono dan Tintin Wulia yang meskipun tidak berdomisili di Yogyakarta, tetapi secara reguler selalu mengunjungi kota ini.

Hampir semua karya yang dipamerkan Here and There, Now and Then dicetak di atas kertas, dengan teknik dasar Intaglio. [2] Sedikit diantaranya menggunakan taknik cetak tinggi. Dalam catatan kuratorialnya, sebelum pameran ini diselenggarakan, Tony Godfrey sempat bertanya kepada beberapa seniman yang ia kenal di Jogja: apakah mereka pernah melihat karya-karya old master prints selain di dalam buku? Jawaban mereka adalah “tidak”. Setelahnya, ia membawa 180 karya-karya tersebut untuk mereka lihat secara langsung. Ia juga mengatakan bahwa penyelenggaraan pameran ini berawal dari ketertarikannya melihat fakta bahwa: diatara seniman-seniman Jogja terdapat banyak diantaranya menempuh pendidikan dalam bidang seni grafis. Meskipun, kemudian beberapa diantaranya tidak kita kenal sebagai seniman yang intens berkarya dengan teknik cetak seni grafis.

Bisa diambil contoh ialah Ade Darmawan, saat ini ia lebih dikenal sebagai seniman conceptual art, karya-karyanya meliputi video dan obyek temuan. Bagaimana Menjadi Kaya, ialah judul karya Ade Darmawan dalam pameran ini. Dengan teknik cetak dalam (Intaglio), yaitu Etsa dan Aquatint, karya ini menampilkan gambaran tangan-tangan yang saling terhubung satu sama lain, dicetak dengan tinta hitam di atas kertas berwarna putih. Sebagian gambaran tangan dalam karya ini memegang kain yang juga mengeluarkan tangan. Lainnya memegang buku bahkan menjadi pijakan obyek orang pada dua telapak tangan. Ada keterkaitan diantara tangan-tangan tersebut. Bagaimana Menjadi Kaya dengan jelas menggambarkan prosesnya. Proses menjadi kaya, terkadang bisa didapatkan dengan instan, seperti tangan pesulap yang mengeluarkan benda dibalik kain penutup.

Selain itu, hasil cetakan yang gagal, yang dianggap tidak maksimal oleh pencetaknya, juga ditampilkan pada salah satu bagian tembok, tanpa bingkai. Hal ini memperlihatkan proses cetak setiap karya yang ditampilkan, bagaimana sebuah karya seni grafis tidak terhindar dari keterikatan teknik cetak itu sendiri. Hasil cetakan yang gagal biasanya berupa tinta yang tidak tercetak maksimal atau bergesernya bidang pelat yang menjadi matrix, sehingga imaji yang tercetak di kertas juga ikut bergeser.

***

Pada umumnya, karya-karya old master prints dicetak dengan jumlah edisi yang sangat banyak, bisa mencapai ratusan. Hal sedikit berbeda dengan di Indonesia dewasa ini. Dalam ketiadaan pasar seni grafis yang kuat di Indonesia, banyak diantara seniman grafis di Indonesia membuat karya grafis dengan meminimalisir jumlah edisi yang mereka cetak. Bahkan, banyak diataranya dicetak dalam jumlah satu edisi, di atas kain kanvas, dengan ukuran yang relatif besar untuk ukuran sebuah karya cetak seni grafis. Untuk orang-orang yang telah terbiasa mengamati karya-karya old master prints, ini merupakan hal yang samasekali absurd. Karena biasanya mereka melihat sebuah karya grafis dicetak dalam kisaran jumlah ratusan edisi. Bahkan para seniman grafis di Eropa dewasa ini, normalnya mencetak sebuah karya dengan jumlah edisi yang melebihi angka 50. Karena karya seni grafis secara spesifik diciptakan untuk menghasilkan karya dengan jumlah banyak.

Asumsi saya ialah, sedikit banyak hal ini memang berkaitan dengan kondisi pasar seperti yang telah disebutkan sebelumya. Sebuah karya seni grafis, jika semakin banyak memiliki edisi, tentu memiliki harga yang relatif lebih rendah sesuai dengan semakin banyaknya jumlah karya tersebut. Sangat wajar jika seseorang dengan pendapatan kelas menengah seperti Godfrey memiliki uang yang cukup untuk membeli karya-karya dari Francisco Goya dan Tiepolo, tapi tidak untuk karya Agus Suwage.[3]

Memang, hal ini adalah masalah klasik dalam seni grafis di Indonesia –selain kekhawatiran daya tahan kualitas kertas di Indonesia, yang telah menjadi rahasia umum. Untuk masalah terakhir, beberapa seniman mulai mengatasinya dengan menggunakan material kertas impor dengan kualitas tinggi. Seperti Tisna Sanjaya yang kerap menggunakan kertas Hahnemühle untuk setiap karya intaglio-nya. Kertas asal Jerman ini, selain memiliki kualitas sangat baik, dilengkapi dengan sertifikat keotentikannya pada setiap lembar kertas, serta ketahanan yang bisa mencapai lebih dari 100 tahun. [4] Selain itu, seniman asal Yogyakarta Bayu Widodo baru-baru ini menggunakan kertas Fabriano buatan Italia untuk beberapa karya screen printing, dalam pameran tunggalnya di Galeri ber.seni, Jakarta, 22 April hingga 20 Mei 2012. [5]

Masih menyoal kertas, sebenarnya di Indonesia sendiri terdapat beberapa kertas dengan kualitas cukup baik. Tinggal bagaimana kita memastikan perawatan terhadap kualitas kertas itu tetap diperhatikan. Karena, selain karya dengan material kanvas, di Indonesia sendiri terdapat beberapa tempat yang menyediakan jasa restorasi kertas. [6] Dalam perbincangan dengan Bambang Budjono beberapa waktu lalu di Fakultas Seni Rupa Insitiut Kesenian Jakarta, saya mendapatkan informasi jika di Balai Konservasi Jakarta terdapat tempat restorasi karya seni, termasuk kertas. Selain juga terdapat di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).[7] Tempat lain yang menyediakan jasa ini, ialah juga terdapat di Perpustakaan Nasional Indonesia, serta beberapa galeri swasta di Jakarta. Sangat menarik jika para seniman di Indonesia mulai memikirkan bagaimana mencari penyelesaian-penyelesain masalah seperti ini, bukan hanya seniman grafis, tapi seniman pengguna material kertas lainnya. Seperti seniman yang intens dengan teknik drawing di atas kertas.

Jika kita melihat jauh ke belakang, seni grafis sejak awal kemunculannya memang identik dengan jumlah karya yang relatif banyak, bisa mencapai puluhan bahkan ratusan edisi. Karya-karya dengan menggunakan teknik seni grafis kerap ditemukan dalam ilustrasi buku-buku, dengan teknik cetak Intaglio; serta pada poster-poster dengan dominasi teknik Litografi. Sifatnya yang bisa digandakan seharusnya dapat dilihat sebagai kelebihan, bukan sebaliknya. Sifat reproduktifitas seni grafis ini tidak bisa disamakan dengan reproduksi. Resolusi International Congress of Plactic 1960 yang masih dipakai sampai sekarang, menerangkan bahwa karya seni grafis pada prinsipnya adalah karya orisinal dengan pertimbangan kerja tangan seniman berlaku di atas pelat cetak dan hasil cetakannya disetujui oleh seniman. Dalam seni grafis, setiap edisi memiliki nilai orisinal yang dijamin melalui pembubuhan tanda tangan seniman pada setiap hasil cetakan serta nomor urut cetakan. [8] Dengan ini, semestinya permasalahan mengenai orisinalitas karya sudah selayaknya ditinggalkan. Para pelaku ataupun penikmat karya seni grafis sudah seharusnya memahami bahwa ada prosedur dan standar konvensi dalam seni grafis seperti pencantuman nomor edisi termasuk artist proof dan test print, yang berlaku global dan tidak mengurangi nilai orisinalitasnya. Barangkali, dalam hemat saya, semangat yang harus dikedepankan dalam hal ini ialah, meminjam kalimat Luis Camnitzer –seorang professor dan seniman grafis kelahiran uruguay­: ini adalah bagian dari upaya demokratisasi seni.

Dalam pameran ini, upaya bermain-main dengan konvensi seni grafis, keliru kiranya jika dilihat sebagai sebuah rigiditas dalam berkarya dengan teknik cetak seni grafis. Sebaliknya, adanya penyegaran ketika kita diperlihatkan kepada karya seni grafis yang tidak berusaha mendekati pendekatan seni lukis pada umumnya –seperti kerap kali terlihat dalam karya-karya seni grafis di Indonesia dewasa ini: berukuran besar, dengan media kanvas dan dicetak dalam satu edisi. Dalam Here and There, Now and Then, ada semacam penolakan halus melalui bisikan yang riuh rendah, terhadap komodifikasi seni –utamanya dalam seni grafis– yang perlahan mengikis kedemokratisan pada setiap karyanya.

 –Asep Topan, Mei 2012.



Catatan Kaki:

[1]Los Caprichos adalah 80 seri karya cetak aquatint dibuat oleh seniman asal Spanyol Francisco Jose de Goya yang dibuat pada kurun waktu 1797 sampai 1798. Karya-karya ini mengkritisi kondisi sosial masyarakat spanyol waktu itu, meliputi dominasi takhayul, ketidakmampuan penguasa, penurunan rasionalitas, dll.

[2] Intaglio adalah teknik cetak dalam seni grafis yang biasa juga disebut sebagai Cetak Dalam. Biasanya pelat tembaga atau seng digunakan sebagai bahan acuan utama, dan permukaan cetak dibentuk dengan teknik etsa, aquatint, engraving, drypoint, atau mezzotint.

[3] Godfrey, Here and There, Now and Then (2012) hlm. 1

[4] Lebih lengkap, bisa dilihat dalam situs resminya: http://www.hahnemuehle.com/site/en/169/home.html

[6] Berasal dari istilah dalam bahasa Inggris: restoration. Untuk proses perbaikan sebuah karya seni. (restoration: the process of repairing or renovating a building, work of art, vehicle, etc., so as to restore it to its original condition, New Oxford American Dictionary, 2009)

[7] Bambang Budjono, pembicaraan pribadi, 2012. (Lebih lengkap mengenai restorasi di ANRI dapat dilihat dalam tautan ini: http://www.anri.go.id/4dm1n/data/artikel_data/0405279a865230ac0d51cc8c62a2d9d4.pdf

[8] Aminudin TH Siregar, Catatan Dewan Juri Trienal Seni Grafis II – 2009,  Menuju Perspektif Baru Seni Grafis Kita (Jakarta: Bentara Budaya Jakarta, 2009) hlm. 8.


Text

Feb 3, 2012
@ 11:52 am
Permalink

Rupa Belanja, Rupa Kota: Sebuah Cerminan

Gambar: Karya indieguerillas,Urban Jungle Warfare 2, (2012).


Rupa Belanja, Rupa Kota, merupakan pameran seni rupa yang di ikuti oleh seniman dari tiga kota berbeda: Jakarta, Bandung serta Yogyakarta. Irwan Ahmett mewakili Ibu kota dalam pameran ini, sedangkan indieguerillas adalah kelompok seniman yang terdiri dari Santi Ariestyowanti dan Dyatmiko “Miko” Lancur Bawono, berasal dari Yogyakarta juga memamerkan karyanya bersama satu lainnya, Wiyoga Muhardanto yang berasal dari kota Bandung. Pameran yang dikurasi oleh Marco Kusumawijaya ini telah digelar sejak tanggal 14 hingga 31 Januari lalu di galeri Salihara, Pasar Minggu jakarta Selatan.

Irwan Ahmett, seniman dan perancang Grafis lulusan FSR IKJ, menggagas PASARt: Bagaikan Jambret di Kapitalistiwa dalam Rupa Belanja, Rupa Kota ini. Terdengar sedikit dipaksakan memang, penamaan PASARt yang –bisa jadi, dan sangat mungkin– bertujuan menggabungkan dua diksi: pasar dan art. Gagasan ini berupa proyek yang melibatkan publik secara tidak langsung dalam ruang galeri, melalui benda-benda temuan. Benda-benda temuan seperti Jaring sumbangan, Klakson pompa, Baju renang plastik, dll. ditemukan oleh beberapa orang street curator yang dipilih oleh Irwan sendiri. Karya-karya yang disajikan oleh Irwan berupa video, live performance serta benda-benda temuan. Disaat pembukaan pameran, Irwan menghadirkan beberapa orang peraga seperti pada karya Beatbox FireworksLudah Bertuah serta Jala Pahala. Melalui karya-karyanya ini, Irwan mencoba menampilkan apa yang disebutnya sebagai kecerdasan lokal. Tentu saja publik –yang bersinggungan langsung dengan benda-benda temuan ini– bisa mempertanyakan lebih jauh apakah bisa dikategorikan kecerdasan lokal, atau sampah?

Gambar II: Karya Irwan Ahmett, PASARt: Bagaikan Jambret di Kapitalistiwa - Jala pahala, (2012).


Urban Jungle Warfare 2 merupakan judul yang dipilih oleh indieguerillas dalam Rupa Belanja, Rupa Kota. Menampilkan beberapa karya tri matra dengan media campuran yang didominasi oleh bahan kayu. Karya-karya ini memiliki tinggi sekitar 40 cm dengan panjang dan lebar yang lebih beragam. Indieguerillas membentuk sebuah citraan sebuah rumah dalam setiap karyanya yang bertumpu pada roda-roda dan banyak diantaranya berbentuk sepeda. Didalam rumah-rumah tersebut terlihat beberapa objek dwi matra yang menjadikannya ajang ritus mereka. Rumah-rumah yang ditampilkan indieguerilas secara bentuk bisa jadi tidak mewakili bentuk-bentuk bangunan kota dewasa ini. Bahkan, lebih seperti rumah adat salah satu daerah di nusantara. Akan tetapi, benda-benda didalamnya, cukup merepresentasikan sifat-sifat Kota dengan bentuk-bentuk lambang mata uang di dalamnya, misalnya. Dengan contoh ini, kita bisa melihat metafor yang ditampilkan indieguerillas untuk menghadirkan sifat konsumtif yang menjadi ciri khas penduduk kota.

Seniman terakhir ialah Wiyoga Muhardanto. Dalam Rupa Belanja, Rupa Kota ini Wiyoga memamerkan karya-karya yang mengkritisi keadaan Bandung saat ini dan persinggungannya dengan Ibu Kota Jakarta. Short Term Plan Expo, ialah nama karya Wiyoga dalam pameran ini, bisa kita lihat sebagai karya yang erat kaitannya dengan tema perjalanan. Ketika pembukaan pameran, Wiyoga beberapa stand lengkap dengan sales promotion girls di dalamnya yang menawarkan produk mereka. Produk-produk itu ialah jasa angkutan travel Jakarta-Bandung dan sebaliknya yang ia rangcang sedemikian rupa. Karya ini merupakan rancangan ulang jasa travel Jakarta-Bandung serta sebaliknya. Jasa angkutan travel mobil ini bisa kita katakan sebagai jamur, seiring dibukanya jalur Tol Cipularang sebagai hujannya. Rancangan ini sangat imajinatif, dengan menampilkan sesuatu yang hampir tidak mungkin terjadi seperti pembangunan jalur khusus mobil travel, bentuk mobil yang menyerupai kereta, dengan jarak tempuh Jakarta-Bandung yang hanya satu jam. Dalam stand yang lain, kita bisa melihat produk keramik yang memiliki motif aspal jalanan yang rusak di beberapa titik di kota Bandung. Keramik, yang sejatinya dipasang sebagai alas berpijak di rumah kita, dibuat dengan gambaran jalan-jalan rusak agar terlihat Bandung pisan. Wiyoga, dalam hal ini melihat yang begitu melekat dari bandung saat ini –sehingga terus terbawa dalam ruang privat seperti rumah– ialah jalanannya yang rusak di beberapa daerah.

Setiap seniman dalam pameran ini memiliki kecenderungan yang beragam dalam menterjemahkan konsumerisme dan kota yang bisa dikatakan benang merah dalam pameran ini. Setiap seniman mencoba merepresentasikan kota asalnya masing-masing bahkan dalam koneks kota yang lebih luas lagi. Sangat disayangkan, ketika kuratorial dalam pameran ini sangat miskin wacana seni rupa. Metafor-metafor yang dihadirkan oleh para seniman, keberagaman serta eksplorasi medium, luput dari pembahasan kurator yang semestinya menjadi penyambung antara seniman dan apresiator dalam memahami karya-karya yang dipamerkan. Rupa Belanja, Rupa Kota merupakan cerminan kota, dimanapun itu, berupa keterkaitan yang saling mempengaruhi –tidak hanya dalam hal ekonomi– antara masyarakatnya dengan kota tempat mereka tinggal.

–Asep Topan, 2012


Text

Jan 25, 2012
@ 1:22 pm
Permalink

Resensi Buku: Reka Alam – Praktik Seni Visual dan Isu Lingkungan di Indonesia


Sejak kelahiran dan perkembangan seni rupa modern Indonesia, visualisasi alam dalam bentuk lukisan pemandangan alam menjadi salah satu kecenderungan utama yang terus hidup hingga sekarang. Alam, dalam konteks sekarang, selain sebagai gambaran visual, ia telah menjadi wacana dan tema dalam peristiwa atau praktik seni rupa.

Menengok perjalanan sejarah seni visual di Indonesia, tema alam yang dimunculkan oleh para pelukis romantik dan Mooi Indië adalah gambaran alam dalam keindahan dan kemolekannya. Sedangkan lahirnya Persagi merupakan momentum bagi tumbuhnya nasionalisme yang semakin menguat di tengah pergerakan nasional. Mooi Indië dan Persagi merupakan salah satu contoh dari “dialektika” sejarah yang menunjukan bagaimana ketegangan soal lingkungan ini diolah secara kreatif dalam kerangka (pembentukan) nasionalisme. Mooi Indië merupakan representasi kaum penjajah dan Persagi merupakan representasi lingkungan kaum terjajah. Setelah itu, pada awal-awal tahun sesudah Proklamasi 1945 hingga tahun 1960 merupakan tahun-tahun periode ketegangan lingkungan ke-Indonesia-an. Persoalan lingkungan berpusar dalam wacana ke-Indonesia-an dan ke-rakyat-an, serta bagaimana mengisinya, membangunnya serta melanjutkannya ke dalam konteks “revolusi 1945 belum selesai”.

Sekitar tahun 1960-an ditengarai sebuah momentum yang memunculkan sebuah gerakan (baru) mengenai apa itu environmental art. Seni Rupa Lingkungan adalah semacam gerakan dalam seni rupa yang mengangkat persoalan lingkungan alam menjadi bagian tematik dari kerja dan karya berkesenian.

Setelah Reformasi, terutama pada tahun 2000-an, semakin banyak karya-karya, bahkan pameran senirupa di Indonesia yang mengangkat tema lingkungan perkotaan. Kota, dengan segala permasalahannya telah banyak memberikan inspirasi kepada para perupa dalam berkarya, dewasa ini. Secara bertahap, cara pandang perupa Indonesia dari zaman kolonial Belanda hingga saat ini terhadap isu lingkungan mengalami perubahan sesuai masanya. Hal ini tidak lain sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi, sosial, politik dan budaya yang terjadi pada masa itu, serta perubahan lingkungan yang perlahan mengubah cara pandang setiap seniman atau perupa terhadap lingkungan di sekitarnya.

Reka Alam merupakan salah satu dari empat Buku katalog data Indonesian Visual Art Archive (IVAA) yang diterbitkan bulan Januari ini di Jakarta, serta beberapa waktu sebelumnya di Kota lainnya di tanah air. Selain berisi kumpulan citra menarik berkaitan dengan tema yang diangkat beserta CD (berisi softcopy data), buku ini juga disertai dengan bagan periodisasi praktik seni visual dan isu lingkungan di Indonesia sejak Mooi Indië hingga Reformasi. Sangat membantu kita dalam memahami perkembangan seni visual dalam kaitannya dengan isu lingkungan yang telah menjadi wacana serta tema dalam praktik seni rupa Indonesia, bukan hanya sebagai gambaran visual.

Indonesian Visual Art Archive (IVAA) adalah sebuah lembaga nirlaba di Yogyakarta yang didirikan tahun 1997, dikenal dengan nama Yayasan Seni Cemeti sampai April 2007. Melalui dokumentasi, riset, perpustakaan serta penyelenggaraan program edukasi dan eksplorasi seni visual, IVAA berfungsi sebagai think-tank atau laboratorium kreatif yang menggagas berbagai pemikiran serta kegiatan-kegiatan pendukung perkembangan seni visual dan budaya kontemporer, baik secara praktek maupun wacana.

–Asep Topan, 25 Januari 2012

(Source: ivaa-online.org)


Text

Jan 19, 2012
@ 12:23 pm
Permalink
3 notes

COPAS! - Peluncuran Serial Katalog Data & Pameran Arsip IVAA

COPAS!

Seni Rupa dan Isu Sosial: Peluncuran Serial Katalog Data & Pameran Arsip IVAA

20 Januari - 3 Februari 2012

Pembukaan:

Jumat, 20 Januari 2012

19.00 - Selesai


Lokasi: Ruru Gallery, ruangrupa‚ Jln. Tebet Timur Dalam Raya no.6‚Jakarta Selatan, 12820

Tahun ini IVAA menerbitkan serangkaian Buku Katalog Data IVAA dalam 4 Volume. Serial Buku Katalog Data IVAA ini menggelar data yang dirangkai dan dikumpulkan dari peristiwa-peristiwa seni visual Indonesia, dalam format buku cetak dan CD-ROM. Dikurasi dari database IVAA sebagai produk pengetahuan dari kerja dokumentasi IVAA selama ini untuk pengembangan wacana pengetahuan masyarakat kontemporer.

Buku saku ini dimaksudkan untuk ikut membangun bahan, medium dan wacana seni rupa dan perkembangan masyarakat bagi dunia pendidikan dan eksperimentasi praktik seni rupa di masa yang akan datang, dan diharapkan juga menjadi buku panduan untuk penelitian dan bahan pengajaran seni rupa.

IVAA telah meluncurkan bagian I dari rangkaian data ini di Surabaya: RUPA TUBUH, September kemarin. Yang kedua; REKA ALAM, diluncurkan di Bali bulan November dan Volume ke III: KOLEKTIF KREATIF di ISI Padang Panjang awal Januari ini.

Yang terakhir, volume IV : INTERKULTUR, kami berencana meluncurkannya di Jakarta beserta ke-3 volume yang lainnya dalam satu paket buku, dengan pameran arsip multimedia yang berlokasi di Ruru Gallery, ruangrupa, dibuka 20 Januari ini.

Kami juga menyelenggarakan rangkaian Bedah Buku untuk ke-4 buku ini di 4 tempat, yaitu:



REKA ALAM:

Praktik Seni VIsual dan Isu Lingkungan di Indonesia (Dari Mooi Indie Hingga Reformasi)

Sabtu, 21/01/12, 15.00-17.00 WIB

Kafe Tjikini

Jalan Raya Cikini 17‚Jakarta 10330

Pembicara

Enrico Halim, Hilmar Farid

Moderator:

Berto Tukan



RUPA TUBUH:

Wacana Gender dalam Seni Rupa Indonesia (1942 - 2011)

Senin, 23/01/12, 15.00-17.00 WIB

Komnas Perempuan ‚Jl Latuharhary 4B‚Jakarta 10310 ‚

Pembicara

Saras Dewi, Heidi Arbuckle

Moderator:

Aquina Hayunta



KOLEKTIF KREATIF:

Dinamika Seni Rupa dalam Perkembangan Kerja Bersama Gagasan dan Ekonomi (Kreatif) (1937 - 2011)

Selasa, 24/01/12, 15.00-17.00 WIB

Galeri Fakultas Seni Rupa‚Institut Kesenian Jakarta‚Jl. Cikini Raya No. 73‚ Jakarta Pusat 10330‚Pusat Kesenian Jakarta - TIM

Pembicara

Yudhi Soerjoatmodjo, Ronny Agustinus

Moderator:

Afra Suci



INTERKULTUR:

Pengolahan Gagasan dan Ekspresi Seni Visual serta Media Alternatif dalam Konteks Keberagaman (1935 - 2011)


Kamis, 26/01/12, 19.00-21.00 WIB

ruangrupa‚ Jln. Tebet Timur Dalam Raya no.6‚Jakarta Selatan, 12820‚

Pembicara

Arif Adityawan, Jemi Irwansyah

Moderator:

Ratih Sukma


email: program@ivaa-online.org


Penerbitan Serial Katalog Data IVAA dan penyelenggaraan program ini didukung oleh HIVOS.


Text

Jan 10, 2012
@ 11:15 am
Permalink
3 notes

Resensi Buku: Cut and Rescue Vol. 1

Cut and Rescue (C.A.R) adalah sebuah buku dengan format fotokopi berisi karya-karya yang fokus menggunakan media kolase. Buku ini merupakan buku pertama (vol. 1) Cut and Rescue yang terbit pada Desember 2011. Buku ini juga disertai sebuah mixtapeThe Return of Setan Tete” yang merupakan cerita lanjutan mixtape sebelumnya bernama “Bisikan Setan Tete”. Cut and Rescue vol. 1 dicetak dengan teknik fotokopi dan terbatas sebanyak 50 eksemplar. Dalam terbitan pertamanya, Cut and Rescue menghadirkan beberapa karya dari 5 seniman kolase asal Jakarta: King Dedi, Jah Ipul, Gooodit, Ube serta Wahyu Widyantono (die art!).

Kelima seniman ini terlihat memiliki kecenderungan berbeda dalam memilih potongan-potongan imaji yang mereka susun menjadi sebuah karya kolase. Karya-karya Gooodit misalnya, sangat didominasi oleh gambar wanita dengan tampilan dan gestur sensual, dikombinasikan dengan lelehan (mungkin darah) dari beberapa bagian tubuhnya. Lain halnya ketika kita melihat karya King Dedi; ada percampuran teknik di sini, antara kolase dan drawing serta teks. King Dedi dengan cerdas memadukan ketiganya; dan bisa dikatakan, gambaran kolase dan drawing ini merupakan ilustrasi dari teks yang ia tuliskan. Seperti pada salah satu karyanya tertulis “To Much Joy Was as Dangerous as Too Much Sorrow; I Think”. Di bawah tulisan tersebut terdapat drawing dan kolase seekor tikus yang sedang terlelap tidur dengan kepala di atas bantal dan sebatang rokok menyala di dekatnya. Begitupun dengan karya-karya Jah Ipul; kolase berdampingan dengan teks-teks di dalamnya. Gambaran yang sangat menonjol dari setiap karya Jah Ipul ialah hadirnya kolase-kolase komik, selain beberapa perangko, tafsir mimpi, kemasan teh celup, dll.

Seniman lainnya, Ube, membuat kolase yang terlihat menggambarkan sebuah suasana.  Selalu ada gambaran tubuh manusia di dalamnya, bahkan potongan salah satu karya Michelangelo, “The Creation of Adam”. Semua wajah tokoh dalam karya Ube digantikan dengan gambaran tengkorak serta terdapat teks-teks pendek seperti “Saya! Butuh Kopi”, “Wah Kembali Happy”, “Matikan People”, “Suara Hati Sahabat Wanita” dan “K T P S”. Teks terakhir merupakan akronim sebuah nama band beraliran thrashpunk asal Jakarta. Seniman terakhir ialah Wahyu Widyantono, terdapat kekeliruan dalam penulisan nama dia di buku ini, yang ditulis Wahyu Widyantoro. Karya Wahyu tidak menghadirkan objek tertentu ataupun teks-teks yang disusun sebagai pesan, seperti karya-karya seniman lainnya dalam buku ini. Potongan-potongan kertas tersusun tidak beraturan, seperti menumpuk. Teks dan gambar berdampingan dengan jejak-jejak stensil, terlihat sangat acak.  Di sinilah menariknya, Wahyu tidak memfokuskan pada munculnya pesan-pesan atau karakter tertentu; komposisi merupakan elemen penting pada setiap karyanya.

Secara tidak langsung, Cut and Rescue mengingatkan kita kepada salah satu karya Richard Hamilton, seniman asal Inggris, juga dengan menggunakan teknik kolase, berjudul ‘Just what is it that makes today’s homes so different, so appealing?’ (1956) yang dianggap sebagai karya awal Pop Art dan membuat teknik kolase ini semakin populer. Kolase, secara etimologi berasal dari bahasa Perancis: coller, yang memiliki arti: menempel. Merupakan salah satu medium karya dalam seni rupa, bisa berbentuk dwi matra ataupun tri matra, terbuat dari sekumpulan bentuk atau gambar yang biasanya telah tersedia, seperti guntingan majalah maupun sobekan koran dan penggabungan bentuk-bentuk ini menciptakan karya yang sama sekali baru.

 

-Asep Topan, 10 Januari 2012


Photoset

Dec 21, 2011
@ 4:12 pm
Permalink

fuckyeah art school graduation day.